Komoditi 
Di Mata Pengamat

Polemik Terkait Sawit Berpotensi Merembet ke Resesi

Polemik Terkait Sawit Berpotensi Merembet ke Resesi
Seorang pekerja di sebuah ritel di Kota Medan sedang menyusun minyak goreng kemasan. (internet)

Medan, elaeis.co - Polemik yang terkait pasokan dan harga minyak goreng (migor) sebagai salah satu produk turunan minyak sawit sampai saat ini tak kunjung usai di Tanah Air.

"Padahal sejak awal kenaikan harga komoditas produk turunan sawit di pasar internasional digadang-gadang bisa memperbaiki daya beli masyarakat. Nyatanya sampai sekarang masih menyisahkan masalah serius di tengah masyarakat," kata pengamat ekonomi asal Kota Medan, Gunawan Benyamin, kepada elaeis.co, Minggu (29/5/2022) malam.

Ia mengakui situasi ini tak lepas dari faktor internasional. Ia melihat tren harga komoditas energi maupun pangan global belakangan ini mengalami kenaikan yang cukup tajam.

Kenaikan tersebut memicu terjadinya masalah serius pada penyediaan kebutuhan energi maupun bahan pangan di Tanah Air.

Selain di bidang energi, yang mengalami lonjakan harga antara lain pupuk yang sangat dibutuhkan para petani.

"Dan faktor pemicu utama kenaikan harga komoditas global belakangan ini adalah perang. Dunia tengah mengalami kenaikan laju tekanan inflasi yang sangat tajam," kata pengajar di sejumlah kampus di Kota Medan ini.

Persoalan makin pelik tatkala negara-negara barat tengah berupaya untuk melakukan embargo ekonomi terhadap Rusia, termasuk dengan cara mengurangi impor minyak dan gas.

Ia mengaku merasa khawatir ujung dari semua itu akan menimbulkan resesi.

Karena itu ia menyarankan pemerintah untuk mengambil langkah-langkah taktis guna menghadapi kemungkinan munculnya resesi.

"Maka yang harus dilakukan pemerintah dalam waktu dekat adalah memfokuskan anggaran untuk menjaga daya beli masyarakat. Ada baiknya fokus perhatian terbesar kedepan pemerintah tidak hanya pada pembangunan fisik semata," kata Gunawan.

Fokus utama itu, saran dia, dialokasikan untuk bantuan sosial, pengendalian harga kebutuhan pangan masyarakat, subsidi BBM, elpiji, maupun listrik.

Editor: Hendrik Hutabarat