Siku Kata 

Petani dan Sawit: Jarak Tak Berhingga

Petani dan Sawit: Jarak Tak Berhingga
Sepasang petani kelapa sawit saat akan memulai bertanam. foto: ist

Pisahkan sejenak; petani pada satu kamar, tanaman sawit di kamar yang lain. Bersatu kamar saja begitu lemah posisi mereka. Sawit selaku produk, berkisar liar di atas hukum pasar.

Mekanisme pasar yang liar itu berada di luar kendali petani. Petani/buruh tak lebih dari susunan makhluk a-biotik tak bernyawa dan tak berkeinginan.

Ketika petani diberi nyawa dan keinginan, dia pun masih di bawah kendali sang tuan besar; pengendali mekanisme pasar. Termasuk pasar yang satu ini; rentan dilencongkan dalam medan pacu sirkuit politik. 

Petani yang bernyawa memiliki suara adalah angka. Angka yang disauk untuk menggenapkan sorak demokrasi: pemilihan umum dengan juluran eskalatifnya ke bawah; pemilihan Kepala Daerah, anggota Legislatif, sampai pemilihan Ketua RT.

Baca juga: Dulu Lagi, Radio

Petani ditatap sebagai gejala mekanis (mesin). Dia bukan sosok manusia yang menyusun sejumlah rindu (cita-cita). Mesin, tugas wajibnya adalah bergerak (anasir haiwani), menggelinding dan menghasilkan sesuatu (bukan hal-ihwal). 

Sawit selaku produk adalah satu dari sekian banyak komoditi yang dihasilkan oleh tindakan mekanis petani/ buruh tadi.

Di sini, perjumpaan antara petani (buruh) dan tanaman sawit (dengan segala turunannya); sama-sama tak bernyawa. Perjumpaan antara mesin dan produk.

Marx menyiang isu ini dengan cantik sebagai reaksi penundaan kesejahteraan oleh pasar (dalam kendali modernisme). Petani diperhadapkan dengan pasar; terdiam dan beku. 

Selaku mesin, kerja hanya dihajatkan untuk pemenuhan biologis-ragawi. Kepuasan kerja jatuh ke tangan berbeda (ke tangan para borjuasi); segar, kaya, muda (awet tua) dan berleha-leha.

Petani dicabut kuasanya ke atas produk yang dihasilkannya. Dia tak punya kuasa menentukan harga produk. Harga berada di luar kendali. Dia (harga) terikat dengan mekanisme pasar yang dikendalikan oleh segenggam tangan gelap, bisa disapa oligarkhi atau apa pun nama dan kelaminnya.

Alhasil, petani-kerja-sawit; substansinya adalah keterpisahan yang didesak-desak untuk “seakan-akan” senyawa dan bersatu. Seakan bersebati dan memang inayah naturnya sedemikian rupa. 

Diangkutlah mesin ini (secara portable, gaya dijinjing) dengan tugas-tugas naratif pendek (bukan narasi besar). Narasi pendek (petite narratif) itu; ada masa-masa kerja, ada masa diam dan rehat. Ketika rehat, dia bak nugget yang ditumpuk dalam peti sejuk (koelkast).

Minyak goreng menghilang. Rakyat meriang. Hentakkan godam kebijakan tinggi!!!: Stop ekspor CPO, agar terpenuhi sediaan minyak goreng dalam negeri. 

Di awal-awal sorak-sorai bergempita, walau ada yang meragu. Berjalan beberapa minggu, kebijakan ini malah membuat gaduh baru. Minyak goreng seakan ada dan tiada, namun harga tandan buah segar (TBS) sawit jatuh ke palung terdalam. 

Pabrik sawit tak membeli TBS dari petani yang mekanikal itu. Mesin (petani dan buruh) terdiam, terhenyak, gagu, bisu.

Yang menjerit bukan petani. Tapi, seakan-akan petani. Ada “lapisan tengah” (dunia barzah) antara petani, buruh dengan Tuan oligarkhi; ya, kaum medioker. Sebentar, mengklaim diri sebagai petani. Tindak-tanduk keseharian malah gaya pengusaha sawit.

Petani dan buruh mekanis itu telah diperhabukan di dalam sebuah kamar senyap. Posisi; gagu, bisu dan terdiam. Namun, gagu, bisu dan terdiam itu dikonstruksi lagi seakan-akan menjerit: “Petani menjerit karena TBS membusuk”. 

Dalam posisi gagu dan bisu, petani/buruh (dalam bentuk ‘suara’) dimobilisasi lagi oleh kaum medioker (mediocre) untuk memberi tekanan kepada Tuan oligarkhi dan penguasa. Mereka (seakan) berada di sisi jelata (pariah dan oketai). Petani terbela, namun bingung...

Gempita gaduh itu hanyalah sejumlah “proyek seakan-akan” yang dimainkan oleh kaum medioker. Medioker tak bisa disamakan dengan wujud “mediating person” dalam model relasi duaan (dyadic relation), namun punya kemiripan sisi: menyedot sumberdaya yang berada di atas dan di bawahnya (mengikis sumberdaya yang berada di sisi kiri dan kanannya secara memusnahkan). 

Semua penyedotan itu beroperasi dalam bungkus pembelaan serba jelata, kepentingan buruh dan kepentingan petani. Toh sebatas bungkus (coated) semata.

Di sini, medioker “mencemplungkan” dirinya dalam medan sirkuit politik (ekonomi) dan meneruskan “kultur-negatif” (walau sebenarnya tak layak dilekatkan pada nilai kultur). 

Tapi permainan “proyek seakan-akan” ini tetap ada dan menghadir dalam semua maujud gaduh dan kecamuk pada skala-dimensi apa pun.

Membangun “ruang-ruang sosial” ala Charles Fourier lewat kunci kebahagiaan dan kedamaian unit utama utopianya: “phalanx”. Mungkin terlalu sosialis? Malah terlalu kemilau kala bersandar pada kaidah ireversibiltas Ilya Prigogine yang banyak merangsang sendi-sendi ilmu sosial dan pembangunan; khususnya termodinamika tak seimbang, wabil khusus pendekatan struktur disipasi (dissipative structure).

Disipasi sosial yang dihidang oleh kelompok medioker sawit ini, paling tidak berupaya menghilangkan energi mekanik, akibat dari gesekan sosial yang terus menerus dilakukan dalam busana bela jelata, bela buruh dan petani.

Ternyata; petani dan sawit, memang dikangkangi jarak selaksa...


 

Editor: Abdul Aziz