https://www.elaeis.co

Berita / Pasar /

Pengusaha Sawit di Kalbar Diajak Aktif Bertransaksi di Bursa CPO Indonesia

Pengusaha Sawit di Kalbar Diajak Aktif Bertransaksi di Bursa CPO Indonesia

PlT Kepala Bappebti, Kasan, saat berbicara dalam acara sosialisasi Bursa CPO di Pontianak, ibukota Kalimantan Barat (Kalbar), belum lama ini. (Foto: dok. Kemendag)


Pontianak, elaeis.co - Para pengusaha kelapa sawit di Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) diajak untuk terlibat aktif dalam bertransaksi di Bursa CPO Indonesia.

Khususnya Bursa CPO yang dikelola oleh PT Bursa Komoditi dan Derivatif Indonesia atau Indonesia Commodity  and  Derivatives  Exchange  (ICDX).

Ajakan itu dilontarkan oleh Kementerian Perdagangan melalui  Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) saat menggelar sosialisasi Bursa CPO di kota Pontianak pada akhor pekan lalu.

Turut  hadir dalam acara itu Direktur  Utama ICDX Fajar  Wibhiyadi, Direktur  Utama  Indonesia Clearing House  (ICH) Yugieandy Saputra, Direktur  ICDX  Nursalam.

Baca juga: Bursa CPO Dinilai Tak Berguna Bagi Petani Jika Aturan DMO dan HET Masih Berlaku

Kemudian, hadir pula Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan dan Promosi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Manumpak Manurung.

Serta, Kabid  Pengembangan Sumber Daya   Manusia (SDM) dan Hubungan Internasional Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO), Djono Albar Burhan.

Dalam acara itu, seperti dikutip elaeis.co, Selasa (9/7/2024), Kasan selaku Pelaksana Tugas (PlT) Kepala Bappebti mengatakan ajakan itu disampaikan guna mengoptimalkan transaksi di Bursa CPO Indonesia.

"Dengan demikian Bursa CPO bisa semakin likuid, dipercaya, dan CPO yabg ditransaksikan mencerminkan harga pasar," beber Kasan.

Baca juga: Ada Bursa CPO, Cara Penetapan Harga TBS Sawit Disempurnakan

Kata dia, pelaku usaha CPO diharapkan untuk tidak lagi menggunakan harga dari bursa Malaysia dan Rotterdam, namun sepenuhnya menggunakan harga dari Bursa CPO Indonesia.

Kasan mengungkapkan, literasi Bursa  CPO di Pontianak yang  bertema “Kupas Tuntas  Bursa  CPO Indonesia” merupakan kegiatan literasi keempat yang dilaksanakan Bappebti tahun ini. 

Sementara itu, kata dia, tiga kota sebelumnya yang menjadi tuan rumah dalam kegiatan literasi serupa adalah Jakarta, Medan, dan Pekanbaru. 

Hal tersebut, ujarnya, selaras dengan arahan Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) untuk melakukan literasi dan edukasi yang masif terkait implementasi Bursa CPO Indonesia.

Baca juga: Sosialisasi Bursa CPO di Pekanbaru, Banyak Perusahaan Sawit Tak Diundang

“Perlu diingat bahwa CPO merupakan komoditas strategis yang memiliki potensi ekspor tinggi sehingga perlu dioptimalkan," ujar Kasan.

Untuk itu, kata dia, Bappebti membentuk Bursa CPO Indonesia yang diresmikan pada Oktober 2023 sebagai salah satu usaha dalam tata kelola CPO.

Kasan menambahkan, transaksi di Bursa CPO Indonesia diharapkan akan membentuk harga acuan yang dapat  digunakan untuk  mendorong  perbaikan harga tandan buah segar  (TBS) oleh Kementerian Pertanian. 

Selain itu, ujarnya. agar harga acuan biodiesel yang ditetapkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjadi lebih akurat. 

Baca juga: Dua Hari Berturut-turut di Medan, ICDX Sosialisasikan Bursa CPO

"Harga acuan yang terbentuk dapat digunakan sebagai pembobot harga tertinggi dalam penetapan harga referensi ekspor CPO," ucapnya.

Harga yang terbentuk di Bursa CPO Indonesia, Kasan menambahkan, harus menjadi rujukan untuk penetapan harga pembeliaj tandan buah segar (TBS) produksi petani sawit dan harga jual biodiesel.

Untuk itu, pihaknya berharap Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong penggunaan harga dari Bursa CPO Indonesia dalam   penetapan hargaTBS. 

Baca juga: Bursa CPO Belum Jalan, Petani Masih Dirugikan

Selain itu, kata dia lagi, Kementerian ESDM juga diharapkan menggunakan  harga dari Bursa CPO Indonesia  dalam kebijakan penetapan  harga  acuan  biodiesel.

Komentar Via Facebook :