Berita / Bisnis /
Lolos Tarif AS 0%, Pengusaha Sawit Sumringah dan Ekspor Siap Ngebut 3 Juta Ton
Jakarta, elaeis.co – Ekspor kelapa sawit Indonesia ke Amerika Serikat diproyeksikan meningkat signifikan setelah komoditas tersebut resmi mendapatkan pembebasan tarif impor atau bea masuk 0%. Sebelumnya, produk sawit Indonesia dikenakan tarif impor hingga 19% di pasar Amerika Serikat.
Pembebasan tarif ini merupakan hasil kesepakatan bilateral antara pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bersama United States Trade Representative (USTR) Jamieson Greer.
Berita Terkait: Amerika Setuju Sawit RI Masuk Tanpa Tarif, Ini Daftar Emiten Paling Diuntungkan
Kesepakatan tersebut tercantum dalam executive orders (EO) Presiden Amerika Serikat yang memberikan pengecualian tarif bagi sejumlah komoditas berbasis sumber daya alam tropis.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan, kebijakan tarif 0% ini akan berdampak langsung terhadap peningkatan volume ekspor sawit Indonesia ke pasar Amerika Serikat.
“Dalam lima tahun terakhir, ekspor sawit Indonesia ke AS terus meningkat. Pada 2023 volumenya mencapai 2,5 juta ton, lalu turun sedikit menjadi sekitar 2,3 juta ton pada 2024. Dengan kembalinya tarif menjadi 0%, dalam dua tahun ke depan ekspor berpeluang menembus 3 juta ton,” kata Eddy, Senin (29/12).
Baca Juga: Emiten Sawit Dihantui Risiko Besar di 2026, Saham Berisiko Goyang Tahun Depan
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), total ekspor Indonesia ke Amerika Serikat sepanjang 2024 mencapai 6,75 juta ton dengan nilai US$26,5 miliar. Amerika Serikat masih menjadi salah satu pasar ekspor utama Indonesia, khususnya untuk komoditas perkebunan dan sumber daya alam.
Eddy menjelaskan, penghapusan bea masuk membuat produk sawit Indonesia lebih kompetitif dibandingkan minyak nabati lain di pasar AS. Selama ini, tarif impor menjadi salah satu hambatan utama yang menekan daya saing harga.
“Dengan bea masuk 0%, biaya ekspor menjadi lebih efisien dan peluang peningkatan volume pengiriman semakin besar,” ujarnya.
Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan, pembebasan tarif ini berlaku untuk komoditas yang berbasis sumber daya alam tropis, seperti kelapa sawit dan kakao. Sementara itu, produk manufaktur tidak termasuk dalam kebijakan pengecualian tarif tersebut.
“Semua komoditas yang berbasis tropical resources dikenakan bea masuk 0%. Ini sudah tertuang dalam executive orders Presiden Amerika Serikat,” ujar Airlangga kepada wartawan.
Pemerintah berharap kebijakan ini dapat mendorong kinerja ekspor nasional pada 2026, meningkatkan devisa negara, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai pemasok utama produk sawit di pasar global.







Komentar Via Facebook :