Berita / Bisnis /
Amerika Setuju Sawit RI Masuk Tanpa Tarif, Ini Daftar Emiten Paling Diuntungkan
Jakarta, elaeis.co – Amerika Serikat akhirnya menyetujui kelapa sawit Indonesia masuk tanpa tarif alias bebas bea masuk. Kesepakatan dagang yang dibawa Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto ini rencananya diteken Januari 2026, dan dampaknya langsung terasa ke sektor agribisnis serta bursa saham Tanah Air.
Selama bertahun-tahun, ekspor sawit Indonesia ke Amerika Serikat dibebani tarif resiprokal hingga 32%. Angka itu bukan receh. Tarif tinggi membuat harga produk sawit dan turunannya kalah saing dibanding minyak nabati lain seperti kedelai atau canola.
Baca Juga: Emiten Sawit Dihantui Risiko Besar di 2026, Saham Berisiko Goyang Tahun Depan
Kini, dengan tarif nol persen, peta permainan berubah total. Biaya pajak yang dulu menggerus harga kini berpotensi menjadi tambahan margin laba bagi perusahaan.
Tak heran jika sejumlah emiten sawit langsung disebut-sebut sebagai pihak yang paling diuntungkan. Salah satunya PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).
Emiten ini punya posisi unik karena mengelola kebun sawit dan kakao sekaligus. Sebagai pemain hulu, LSIP akan menikmati efek kenaikan harga komoditas global seiring terbukanya pasar Amerika. Ditambah lagi, LSIP dikenal punya neraca super sehat dengan utang nyaris nol, membuat potensi lonjakan laba makin terasa bersih.
Di sektor hilir, PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) juga masuk daftar teratas. SIMP mengolah CPO menjadi minyak goreng, margarin, dan lemak nabati.
Bebas tarif membuat produk olahan sawit Indonesia jauh lebih kompetitif di pasar Amerika, terutama untuk kebutuhan industri makanan dan rumah tangga. Dengan daya beli konsumen AS yang tinggi, peluang peningkatan volume ekspor terbuka lebar.
Nama lain yang ikut terseret arus positif adalah PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR).
Berdasarkan laporan tahunan, sekitar 42% pendapatan SMAR berasal dari ekspor. Artinya, kebijakan tarif AS punya dampak langsung ke kinerja keuangan.
Penghapusan bea masuk membuat produk turunan sawit SMAR seperti olein dan stearin lebih fleksibel dipasarkan, sekaligus membuka peluang arbitrase ke pasar dengan margin lebih tebal.
Tak hanya sawit, sektor kakao juga kecipratan berkah. PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO), produsen cokelat olahan, berpeluang menembus pasar Amerika dengan harga yang lebih kompetitif.
Selama ini, industri cokelat Indonesia kerap mentok di tarif tinggi. Kini, pintu terbuka. Bagi COCO yang skala bisnisnya masih berkembang, kontrak ekspor baru bisa berdampak signifikan terhadap pertumbuhan pendapatan.
Data dari USDA mempertegas besarnya peluang ini. Pada 2023, nilai ekspor tropical oil Indonesia ke AS mencapai US$2,13 miliar, menguasai lebih dari 70% impor minyak tropis Amerika. Lonjakan ini bersifat struktural.
Dalam 13 tahun terakhir, ekspor minyak tropis RI ke AS melonjak hampir 20 kali lipat, menandakan ketergantungan industri pangan dan energi AS terhadap sawit Indonesia makin kuat.
Dengan Amerika membuka keran tanpa tarif, sawit Indonesia bukan cuma makin kompetitif, tapi juga kian strategis di rantai pasok global.
Bagi emiten sawit, ini bukan sekadar kabar baik penutup tahun, melainkan titik balik besar yang bisa mengerek laba, valuasi saham, dan sentimen pasar secara bersamaan.







Komentar Via Facebook :