https://www.elaeis.co

Berita / Nusantara /

Jutaan Petani, Penyuluh, dan Babinsa Diberdayakan Antisipasi Krisis Pangan

Jutaan Petani, Penyuluh, dan Babinsa Diberdayakan Antisipasi Krisis Pangan

Padi gogo ditanam di lahan peremajaan sawit rakyat. foto: MC Kalsel


Jakarta, elaeis.co - Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan terobosan untuk memperkuat ketahanan pangan. Salah satunya, melatih jutaan petani dan penyuluh untuk mengantisipasi darurat pangan nasional.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan, prioritas pemerintah saat ini adalah menggenjot produksi padi dan jagung untuk mencegah terjadinya krisis pangan di Indonesia.

“Kalau krisis energi mungkin kita masih bisa bergerak, tapi kalau krisis pangan, seluruh aktivitas terhenti. Bahkan negara pun tidak ada tanpa pangan. Makanya ini menjadi prioritas pemerintah saat ini,” katanya dalam rilis media dikutip Jumat (7/6).

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan Dedi Nursyamsi menambahkan, sejak tahun lalu dampak covid 19, geopolitical tension khususnya perang Rusia-Ukraina, dan climate change (perubahan iklim) sangat terasa khususnya dalam hal pangan. Situasi dunia dalam kondisi tidak menentu dengan sekitar 60 negara mengalami krisis pangan dan 900 juta penduduk dunia terdampak.

“Berbagai masalah itu menyebabkan produksi pangan global terganggu. Di Indonesia, sejak Februari tahun lalu hingga Maret tahun ini mengalami fenomena alam yang disebut El Nino, kemarau yang berkepanjangan. Solusi mengatasi krisis pangan, kita harus swasembada," sebutnya.

Terkait dengan upaya peningkatan produksi padi dan jagung, BPPSDMP menggelar Pelatihan Sejuta Petani dan Penyuluh (PSPP) Volume 10 Tahun 2024 di Balai Besar Pelatihan Pertanian (BBPP) Ketindan, Malang, Jawa Timur. Kegiatan ini berlangsung Rabu (5/6) hingga Jumat (7/6).

Dedi mengatakan, beras adalah kebutuhan pokok Indonesia. Per bulannya, kebutuhan beras dalam negeri tidak kurang dari 2,6 juta ton atau setara 1 juta hektare luas panen dengan produktivitas 5,2 ton per hektare. Sementara Indonesia hanya mampu menghasilkan beras 30,2 juta ton per tahun.

"Artinya kita masih defisit 1 juta ton beras. Belum lagi cadangan beras pemerintah (CBP) 2,5 juta ton, berarti kurang sekitar 3,5 juta ton beras setiap tahun. Itu setara dengan 7 juta ton gabah kering giling (GKG)," jelasnya. 

Berdasarkan data yang ada, pada Maret 2024, petani baru bisa menanam seluas 800.000 hektare atau dengan kata lain terjadi kekurangan tanam seluas 300.000 hektare, yang akibatnya akan defisit beras.

"Oleh karena itu, kita harus melakukan perluasan tanam dan meningkatkan indeks pertanaman (IP) di lahan rawa dan lahan tadah hujan agar produksi beras kembali melimpah,” ujar Dedi.

Kementan saat ini tengah fokus menggenjot produksi dua komoditas pokok, yaitu padi dan jagung nasional melalui  optimalisasi lahan rawa, pompanisasi, dan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan.

Dedi mengatakan, optimalisasi rawa sedang dilakukan di 11 provinsi dengan target meningkatkan IP 100 menjadi 200 untuk daerah yang sudah dilakukan survei investigasi dan desain (SID).

"Lahan rawa kita umumnya cuma tanam satu kali dalam satu tahun. Kalau ditingkatkan IP menjadi dua kali dalam satu tahun, berarti kita harus optimasi lahannya. Kita harus perbaiki salurannya dan sebagainya," sambung dia.

Kementan juga menggalakkan program bantuan pompanisasi, khususnya di lahan persawahan tadah hujan ber-IP satu yang dekat dengan sumber air. Program ini akan dilakukan 500 hektare di Pulau Jawa dan 500 hektare di luar Pulau Jawa.

"Kita punya lahan tadah hujan 3-4 juta hektare, yang baru tanam satu kali dalam satu tahun karena irigasinya hanya mengandalkan hujan. Kalau ini kita tingkatkan IP-nya jadi dua kali, produksi kita juga akan meningkat," ujarnya.

Kementan juga menggalakkan tumpang sisip padi gogo di lahan perkebunan sawit yang sedang mengikuti program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). "Kita ada lahan sawit dan kakao sekitar 500.000 hektare untuk program tumpang sisip padi gogo. Sehingga yang tadinya tidak bisa tanam menjadi tanam,” kata Dedi.

Dengan latar belakang inilah BPPSDMP menyelenggarakan PSPP Volume 10 Tahun 2024 bagi Petani, Penyuluh Pertanian, dan Bintara Pembina Desa (Babinsa) dengan tema "Gerakan Antisipasi Darurat Pangan Nasional".

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman peserta dalam peningkatan produksi padi melalui optimalisasi lahan rawa dan pompanisasi di lahan sawah tadah hujan serta pemanfaatan lahan perkebunan sawit, kelapa, dan kakao untuk padi.

PSPP ini dilaksanakan secara luring di BBPP Ketindan dan daring serentak di UPT Pelatihan Pertanian, Kantor Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten/kota, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan Kantor Koramil di seluruh Indonesia.

Peserta pelatihan yang mengikuti sebanyak 1.902.354 dari target sebanyak 1.800.000 orang yang terdiri dari petani sejumlah 1.823.948 orang, Penyuluh PNS sejumlah 12.008 orang, Penyuluh PPPK sejumlah 7.690 orang, Penyuluh THL Pusat sejumlah 474 orang, Penyuluh THL Daerah sejumlah 3.184 orang, Babinsa sejumlah 48.347 orang, dan insan pertanian lainnya sejumlah 6.703 orang.

 

Komentar Via Facebook :