https://www.elaeis.co

Berita / PSR /

Inilah Perbandingan Tonase TBS Sawit Rakyat, Swasta, dan BUMN

Inilah Perbandingan Tonase TBS Sawit Rakyat, Swasta, dan BUMN

Program PSR dinilai menjadi jawaban untuk mengatasi rendahnya profuktivotas perkebunan sawit rakyat, terutama dalam menghasilkan TBS. (Foto: ist)


Cibinong, elaeis.co - Jika ditilik dari sisi produksi, maka terlihat jelas perbedaan jumlah tonase tandan buah segar (TBS) yang diproduksi dari kebun sawit milik rakyat, perusahaan besar swasta (PBS), dan perusahaan milik negara (BUMN).

"Salah satu permasalahan perkebunan sawit rakyat adalah tingkat produktivitas yang lebih rendah," ujar Sukarman, seorang peneliti, dalam sebuah webinar belum lama ini.

Perlu diketahui, dia adalah seorang Peneliti Ahli Utama dari Pusat Riset Tanaman Perkebunan (PRTP) Organisasi Riset Pertanian dan Pangan (ORPP) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Kata Sukarman seperti dikutip elaeis.co, Selasa (9/7/2024), secara nasional, rata-rata produktivitas sawit rakyat hanya mencapai 3,44 ton per  hektar (Ha) per tahun.

Baca juga: 12 Provinsi Diteliti, Terungkap Penyebab Lambannya Realisasi Program PSR

Sedangkan produktivitas perkebunan kelapa sawit dari PBS dan PBN, sambung Sukarman, masing - masing mencapai 4,04 ton per Ha per tahun, dan 4,23 ton per Ha per tahun.

“Rendahnya produktivitas perkebunan kelapa sawit milik rakyat disebabkan karena tanaman sudah berumur tua dan banyak yang rusak atau tak terawst dengan baik," ungkap Sukarman.

Selain itu, kata dia, petani sawit banyak yang menggunakan benih bukan unggul dan tidak bersertifikat, serta kurang banyak melakukan pengelolaan kebun.

"Termasuk dalam hal penggunaan pupuk  yang masih kurang sesuai dengan kebutuhan, karena harga pupuk masih dianggap mahal,  sehingga produktivitasnya rendah,” tutur Sukarman.

Baca juga: Disbunnak Sumut Bakal Bicarakan Soal Program PSR, Simak Jadwal Lengkapnya

Karena itu Sukarman menilai  diperlukan upaya peremajaan terhadap kebun kelapa sawit rakyat  yang tidak produktif seperti Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR). 

Agar tidak terulang lagi rendahmua produktivitas sawit rakyat, Sukarman bilang perkebunan sawit peserta program PSR harus mendapatkan pupuk yang disubsidi.

"Serta, perlu pula untuk menambah kandungan kalium atau K yang lebih tinggi dalam pupuk majemuk NPK," saran Sukarman.

Alasannya, kata Sukarman, karena tanah-tanah yang dijadikan kebun sawit sebagian besar mengandung kalium yang rendah.

Baca juga: Genjot Realisasi PSR, Petani Sawit Minta Tata Ruang Dibenahi

"Di lain pihak, agar tandan buah segar (TBS) sawit mampu menghasilkan rendemen yang bagus sehingga minyak sawit  mentah atau crude palm oil (CPO) yang diproduksi pun berkualitas tinggi, membutuhkan hara kalium yang tinggi," ujar Sukarman. 

Sebelumnya Setiari Marwanto selaku Kepala PRTP ORPP BRIN mengungkapkan, nilai ekspor CPO terakhir telah mencapai angka lebih dari angka Rp 460 triliun.

"Kontribusi sub sektor perkebunan terhadap perekonomian nasional terus meningkat dan memperkuat pembangunan perkebunan kelapa sawit secara menyeluruh," ujar Setiari Marwanto.

Namun demikian, ujarnya, Indonesia dihadapkan pada kondisi penurunan produktivitas maupun akhir siklus produksi kelapa sawit 25 tahunan untuk sebagian besar perkebunan kelapa sawit eksisting di Indonesia.  

Baca juga: Aspek-PIR Targetkan PSR 1.000 Hektar di Provinsi Jambi

"Hal ini memerlukan upaya khusus, termasuk dengan melaksanakan  program PSR yang telah diluncurkan pemerintah sejak tahun 2017 lalu.," tegas Setiari Marwanto selaku Kepala 
PRTP ORPP BRIN.
 

Komentar Via Facebook :