Nusantara Bisnis 

Harga Sawit Anjlok, Permintaan Peralatan Produksi Menurun

Harga Sawit Anjlok, Permintaan Peralatan Produksi Menurun
Pembuatan peralatan produksi industri kelapa sawit di Koperasi Rumbio Jaya Steel (RJS) Kampar.

Pekanbaru, elaeis.co - Turunnya harga kelapa sawit berdampak terhadap beberapa sektor usaha. Salah satunya yakni industri pembuatan peralatan produksi kebun kelapa sawit. Seperti dodos, gancu, tojok kapak dan sebagainya.

Hal ini terjadi di Koperasi Rumbio Jaya Steel (RJS) di Kampar yang bergerak dalam pembuatan peralatan produksi.

Hal ini dibenarkan Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) RJS Desrico Apriyus. Memang saat ini penurunan belum begitu besar, namun diperkirakan dua pekan mendatang penurunan akan cukup besar.

"Saat ini permintaan dan pemesanan sudah cukup terasa. Ini terjadi baik permintaan dari dalam Riau sendiri maupun permintaan provinsi lain," ujarnya kepada elaeis.co, Kamis (23/6).

Namun untuk permintaan khusus perusahaan belum ada penurunan. Yang berkurang adalah masyarakat umum yang langsung melakukan permintaan kepada dirinya. Selin itu juga permintaan toko-toko yang menjadi langganannya.

"Turunnya harga sawit memang sangat berdampak. Kita khawatir ada penurunan pekerja yang akhirnya berdampak kepada kita," ujarnya.

Kedati mengalami penurunan, Desrico tetap komitmen untuk meningkatkan kualitas produk yang dijajakannya. Salah satunya yakni dirinya berencana akan berkunjung ke industri pembuatan peralatan tersebut di wilayah Medan. Sebab di wilayah Sumatera Utara itu, kebanyakan pandai besi telah menggunakan bahan import dari Jepang. Sementara saat ini pihaknya masih menggunakan bahan besi pir mobil bekas.

"Rencana Minggu depan kita akan berkunjung ke Medan. Kita ingin lihat kualitas bahan yang dari Jepang itu," tuturnya.

Untuk diketahui, setiap bulan Desrico mampu menjual sekitar 100 ribu item berbagai peralatan itu. Seperti dodos, gancu, egrek, tojok, kampak, garut, dan lain sebagainya. Ini dihasilkan oleh 40 pandai besi yang tergabung dalam RJS tadi.

Sementara untuk khusus Dodos dan egrek ia mencatat ada sekitar 10 ribu buah terjual setiap bulannya.

"Produk kita sudah masuk di pasar nasional. Mulai dari Aceh sampai Kalimantan," terangnya.

Ceritanya, produksinya ini semakin diminati petani sejak Pemda Kampar dan Pemprov Riau ikut mendukung produksi RJS tadi. Misalnya lewat bantuan peralatan produksi, pinjaman modal serta membantu dalam pemasaran.

Selain itu, faktor kualitas produk juga turut mempengaruhi tingginya minat para petani sawit untuk peralatan yang diciptakan RJS tadi.  Saat ini dua produk yakni Dodos dan egrek hasil produksinya sudah mendapatkan label Standar Nasional Indonesia (SNI).

Kualitas itu sendiri tentu merupakan jerih payahnya para pandai besi RJS yang sudah mulai membakar dan membentuk besi sejak 1970. Namun baru resmi legal sejak 2019 lalu.

"Produk kita yakni dodos dan egrek merupakan yang pertama di Indonesia yang mendapatkan label SNI dari pemerintah . Berarti kualitas kita diakui dan ini buat kita lebih optimis untuk meningkatkan produksi," bebernya.

Label SNI tersebut diterima RJS di Bandung, Jawa Barat beberapa waktu laku. Meski kata Desrico masih perlu ada beberapa yang harus dibenahi.

Editor: sahril ramadana