Peternakan 

Harga Migor di Bengkulu Masih Mahal

Harga Migor di Bengkulu Masih Mahal
Minyak goreng dalam kemasan di salah satu supermarket di Karawaci, Tangerang, Banten. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Investor

Bengkulu, elaeis.co - Penerapan DMO dan DPO serta pencabutan larangan ekspor bahan baku minyak goreng, ternyata tidak membuat harga minyak goreng turun signifikan.

Di Provinsi Bengkulu, pasca-dicabutnya larangan ekspor, harga minyak goreng kemasan sederhana hanya turun Rp1.000/liter dari harga sebelumnya Rp 24.000/liter kini Rp23.000/liter.  Sementara minyak goreng kemasan premium hanya turun Rp 2.000 dari harga sebelumnya Rp 25.000 per liter.

Meski demikian, Pemerintah Provinsi Bengkulu melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) memastikan harga minyak goreng (Migor) saat ini sedang dalam proses stabilisasi. Sehingga penurunan komoditas pokok ini memerlukan waktu.

Kepala Disperindag Provinsi Bengkulu, Ir Yenita Saiful mengatakan, harga minyak goreng dalam proses stabilisasi dengan penerapan kebijakan domestic mandatory obligation (DMO) dan domestic price obligation (DPO).

"Kebijakan yang terakhir dari pemerintah adalah dipastikan harga minyak goreng tidak bergantung lagi dari harga CPO internasional. Sehingga dibikinkannya kebijakan DMO dan DPO itu," kata Yenita, kemarin.

Ia menjelaskan, selama ini produsen minyak goreng dalam negeri membeli CPO sebagai bahan baku minyak nabati dengan harga global. Dikarenakan harga minyak nabati dunia yang terus melonjak sejak tahun lalu, turut berpengaruh pada kenaikan harga minyak sawit sebagai bahan baku minyak goreng. 

Oleh sebab itu, pemerintah menerapkan DMO dan DPO, sehingga membuat harga minyak goreng tidak lagi mengikuti harga CPO dunia.

"Kita harap kebijakan ini bisa menurunkan harga minyak goreng di pasaran," ujarnya.

Selain itu, ia mengatakan, pemerintah menerapkan DMO yaitu para eksportir CPO harus mengalokasikan 20 persen dari total volume ekspornya untuk kebutuhan dalam negeri. Sehingga para eksportir tidak bisa melakukan ekspor jika pasokan dalam negeri belum terpenuhi.

"Ini saya kira kewajiban yang harus dipatuhi oleh eksportir untuk memasok ke dalam negeri. Jadi pada dasarnya 20 persen dari yang akan diekspor harus dipastikan dulu pasokannya ke dalam negeri dan ini sudah mulai berjalan," katanya.

Selanjutnya, untuk harga jual CPO di dalam negeri, pemerintah menerapkan harga tertinggi CPO sebesar Rp 9.500 per kg atau dalam bentuk minyak Rp 10.300 per kg. Sehingga dengan begitu harga minyak goreng menjadi paling tinggi Rp 14 ribu per liter dikalangan masyarakat. 

Ia merinci, harga minyak goreng kemasan premium maksimal Rp 14 ribu per liter, harga minyak goreng kemasan sederhana maksimal Rp 13.500 per liter, dan harga minyak goreng curah maksimal Rp 11 ribu per liter.

"Dengan adanya penerapan DMO dan DPO ini maka harga minyak goreng di pasar akan selalu stabil," pungkasnya.

Editor: sahril ramadana