https://www.elaeis.co

Berita / Feature /

Gus Dalhari Harahap; Dari Perwira TNI AD, Manager Farmasi Hingga Jadi Petani Sawit

Gus Dalhari Harahap; Dari Perwira TNI AD, Manager Farmasi Hingga Jadi Petani Sawit

Gus Dalhari Harahap (kanan) saat bersama Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung. foto: ist


Sejumlah Polisi Militer yang tiba-tiba datang ke Hotel Batavia di kawasan Tambora Jakarta Barat sontak membikin para pekerja perusahaan farmasi PT. Upjohn yang tinggal di hotel itu terheran-heran. 

Mereka semakin kaget lantaran yang dicari oleh rombongan berseragam lengkap itu rupanya satu dari mereka; Gus Dalhari Harahap. 

Begitu ketemu dengan Gus yang waktu itu masih karyawan magang di perusahaan asing itu, para tentara ini menghormat dan kemudian meminta Gus ikut dengan mereka. 

Di situlah ketahuan kalau Gus, ternyata seorang perwira Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI AD) yang sudah lama tak kembali ke kesatuannya di bagian laboratorium, Perindustrian TNI Angkatan Darat (Pindad) di Bandung Jawa Barat (Jabar). 

"Saya kemudian dibawa ke Satuan Komando Garnisum (Skogar) dekat Pasar Rumput Jakarta Selatan," kenang Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP-Apkasindo) ini saat berbincang dengan Elaeis Magazine di salah satu sudut Kota Medan Sumatera Utara (Sumut), Selasa malam dua pekan lalu. 

Di Skogar kata lelaki yang kini sudah berusia 52 tahun ini, dia ditahan selama 4 bulan sebelum kemudian benar-benar diberhentikan dari kesatuan.

Tak mudah sebenarnya bagi Gus untuk melepas dinas kebanggaannya itu, apalagi menjadi tentara dengan pangkat letnan dua, baru setahun dia jalani, setelah lulus tes Sekolah Perwira Wajib Militer (Sepawamil) pada 1991 silam. 

Sempat tiga bulan dia berpikir panjang; bekerja di perusahaan asing itu walau masih training sudah digaji Rp1 juta sebulan, atau lanjut perwira tentara dengan gaji Rp70 ribu?

Gaji awal yang sudah besar dengan embel-embel gaji akan naik terus disertai sejumlah bonus, akhirnya meluluhkan hati Gus untuk memilih perusahaan farmasi itu. 

"Kayaknya saya tertarik kerja di farmasi ini mas," kata Gus kepada Edi Sukiswo, seniornya waktu kuliah di Akademi Kimia Analis di Bogor, saat bertemu di kampus.
  
Kebetulan Edi yang sudah Product Manager di perusahaan farmasi itu, saban sabtu rutin ketemu dengan Gus dan alumni lainnya di almamater mereka itu. 

Di kampus ini pulalah pertama kali Ketua DPW Apkasindo Sumut ini mengeluh soal pendapatannya yang tak seberapa tadi. Dibilang tak seberapa lantaran anak ke-4 dari 6 bersaudara ini juga harus membagi penghasilannya; untuk kebutuhan sendiri dan orang tua serta adiknya. 

Belum lagi adiknya sudah pula kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) di Lenteng Agung. Makin bertambahlah beban yang juga musti ditanggung Gus. 

"Emak saya cuma guru SD sementara ayah pengurus masjid. Saat itu kami termasuk keluarga yang kurang beruntunglah," katanya. 

Nah, mendengar keluhan Gus itu, Edi pun menawari dia bekerja. "Loe masuk kerja di perusahaan gue aja," Edi memberi solusi.

Singkat cerita, Gus pun membikin lamaran dan diterima. Sambil berpikir untuk menentukan pilihan, ke kantornya di Pindad, dia minta izin sakit. Padahal, dia sudah ikut training di Cilodong, di pabrik milik perusahaan farmasi itu. 

Para peserta training ini diinapkan di Hotel Batavia tadi. Dari hotel ke pabrik dan sebaliknya, ada mobil antar jemput. 

"Kalau biasanya saya mandi nimba air dan harus memasak, di hotel itu tinggal putar kran saja, kamar pakai pendingin udara. Enak sangatlah waktu itu," kenangnya sembari nyengir. 

Habis masa tahanan dan diberhentikan dari militer, Gus lanjut kerja di perusahaan itu. Dia ditugasi di pabrik. "Loe mau terus di pabrik atau mau jadi marketing? Kalau di pabrik loe akan susah naiknya. Soalnya pimpinannya jebolan UGM," Edi bertanya saat dia dan tim marketing perusahaan datang ke pabrik itu. 

"Kalau mau cepat naik, di marketing saja. Nanti loe gue suruh dites," Edi memberi pilihan dan Gus pun memilih menjadi marketing di Jakarta.

Belum genap dua tahun, dia sudah dipromosikan menjadi koordinator dan tak lama kemudian dipromosikan lagi jadi manager di Semarang, Jawa Tengah. "Waktu itu wilayah kerja saya meliputi Semarang, Yogyakarta dan Solo. Kantor saya di Komplek Industri Kaligawe," katanya. 


Seperti apa kemudian Gus hingga sampai ke Medan dan masuk menjadi pengurus Apkasindo, selengkapnya di Elaeis Magazine edisi Oktober 2022.   


 

Komentar Via Facebook :