Berita / Nasional /
Fadhil Hasan Bongkar 5 Isu Krusial Sawit RI-India
Fadhil Hasan, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF).
Jakarta, elaeis.co – Fadhil Hasan, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), mengungkap lima isu krusial yang kini menjadi tantangan hubungan dagang minyak sawit Indonesia–India, menyoroti tren ekspor, dinamika harga Crude Palm Oil (CPO), hingga upaya kedua negara menjaga stabilitas pasokan dan permintaan.
Menurut Fadhil, India tetap menjadi pasar penting bagi sawit Indonesia, namun tren ekspor mengalami tekanan sejak 2024.
Volume ekspor Indonesia ke India tercatat turun dari sekitar 6 juta ton pada 2023 menjadi sekitar 4,8 juta ton pada 2024, terutama karena harga sawit global yang sempat lebih tinggi dibanding minyak nabati lain. Kondisi tersebut mendorong India beralih sebagian pasokannya ke sumber lain.
Namun, ada indikasi positif pada 2025. Menurut data yang dipantau pelaku industri, ekspor sawit Indonesia ke India diperkirakan akan melebihi 5 juta ton pada 2025, didorong oleh penurunan tarif impor India dan upaya kerja sama baru antara asosiasi sawit Indonesia dan pelaku industri di India.
Meski demikian, dinamika harga CPO global tetap menjadi faktor penentu utama permintaan.
Masuknya isu mandatory biodiesel di Indonesia menjadi poin kedua yang disinggung Fadhil.
Peningkatan bauran biodiesel sampai B40 dan rencana menuju B50 di tahun mendatang diperkirakan akan menekan pasokan sawit ekspor karena sebagian besar bahan baku akan digunakan untuk pasar dalam negeri.
Hal ini berpotensi memengaruhi volume ekspor ke India dan negara lain jika permintaan domestik terus meningkat sementara produksi tidak tumbuh signifikan.
Isu ketiga adalah ambisi India mengejar swasembada minyak nabati dalam dua dekade ke depan.
Upaya ini, menurut Fadhil, ada risiko menekan impor, namun sekaligus membuka peluang kerja sama baru seperti penyediaan bibit dan teknologi yang justru bisa memperkuat hubungan dagang kedua negara.
Poin keempat terkait inkonsistensi kebijakan tarif impor di India yang sering berubah dalam jangka pendek.
Tarif yang naik turun membuat eksportir Indonesia sulit memproyeksikan permintaan dan harga, sehingga dialog perdagangan intensif serta kampanye positif menjadi strategi yang perlu diperkuat.
Terakhir, persepsi pasar terhadap sawit masih menjadi pekerjaan rumah. Di segmen kelas menengah ke atas India, sawit masih dipandang inferior dibanding minyak nabati lainnya.
Padahal, dari sisi nutrisi dan efisiensi, sawit memiliki keunggulan yang jika dikomunikasikan dengan tepat melalui edukasi publik dan kampanye berkelanjutan dapat mengubah pola konsumsi di pasar utama.
“Hubungan dagang sawit Indonesia–India harus melampaui transaksi tradisional. Ini perlu merambah kerja sama penelitian, investasi, hingga kampanye bersama untuk memastikan keberlanjutan pasar,” ujar Fadhil Hasan menggarisbawahi pentingnya strategi jangka panjang bagi industri sawit nasional.
Data ekspor CPO Indonesia juga menunjukkan tren positif secara umum. Secara agregat, total volume ekspor sawit dan turunannya mencatatkan peningkatan signifikan di tahun 2025.
Laporan BPS dan asosiasi industri mencatat volume ekspor CPO dan produk turunannya tumbuh lebih dari 10 persen dari periode yang sama sebelumnya, dengan nilai total mencapai lebih dari US$13,6 miliar dalam periode Januari–Juli 2025.
Dinamika harga CPO sendiri bergerak fluktuatif sepanjang 2025. Lonjakan permintaan global dan kebijakan domestik seperti biodiesel mendorong harga CPO terkadang tetap tinggi, namun pada saat yang sama terjadi periode penurunan karena pergeseran preferensi pasar global.
Perubahan harga ini memberi dampak langsung pada volume ekspor ke India dan negara tujuan utama lainnya.
Dengan memahami lima isu yang diidentifikasi Fadhil Hasan, mulai dari tren ekspor, kebijakan biodiesel, target swasembada India, fluktuasi tarif impor, hingga persepsi pasar, pelaku industri dan pembuat kebijakan diharapkan mampu merumuskan strategi adaptif agar sawit Indonesia tidak hanya mempertahankan volume ekspor, tetapi juga meningkatkan nilai tambah dalam perdagangan internasional yang kian kompetitif.









Komentar Via Facebook :