https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Feature /

Bagian 1

Es Cendol, Gulat dan 'Ternak Masalah' itu

Es Cendol, Gulat dan

Ketua Umum DPP Apkasindo, Gulat Medali Emas Manurung. foto: ist


Yogyakarta, elaeis.co - Sisi Utara gedung pertemuan di kawasan Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta itu membikin lelaki 50 tahun ini ngiler. 

Soalnya di sana, ada suguhan es cendol yang sedari jaman sekolah, sudah jadi kesukaannya. "Eh, Pak Witjak...apa kabar?" Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP-Apkasindo) ini sontak sumringah menengok sosok yang dia kenal itu sambil menyodorkan tangan; bersalaman. 

Nama lengkapnya Witjaksana Darmosarkoro. Lelaki bergelar doktor itu sehari-hari sebagai Director of Sustainability and Development of Smallholders, Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC)

Witjak yang juga sumringah menengok Gulat Medali Emas Manurung itu tak sendirian datang ke meja cendol tadi, dia ditemani Direktur Operasional Holding Perkebunan Nusantara, Desmanto. Gulat pun menjabat erat tangan Desmanto.

Yang pasti, Gulat benar-benar tak menyangka ketemu dengan dua sosok penting di industri kelapa sawit itu. Endingnya sudah bisa ditebak; ayah dua anak ini ngomong panjang lebar soal derita petani kelapa sawit swadaya dari Sabang hingga Merauke pasca larangan ekspor dicabut

Gulat baru terbang ke Loksumawe dan Aceh Utara di Provinsi Aceh. Kemudian lanjut ke Sanggau serta Singkawang di Kalimatan Barat (Kalbar). Seakan tak kenal capek, Gulat pun terbang ke Yogyakarta itu. Kebetulan di sana, sederet forum elite sedang digelar. 

Palm Oil Chief Oganization Officer Forum (COO Forum) and Palm Oil Human Capital Association Forum (HCA Forum). Acara yang digelar selama tiga hari ini --- 28-30 November 2022 --- dibungkus oleh Forum Sawit Indonesia (FoSI) 2022. Gulat menjadi salah satu pembicara utama.      

"Anggota Apkasindo itu enggak hanya petani swadaya, tapi juga petani bermitra. Jadi, kami musti adil untuk kedua tipologi petani sawit ini," ujar Gulat.

Maksud Gulat adil itu ya begitu petani sawit bermitra mendapat harga Tandan Buah Segar (TBS) yang layak, para petani sawit non mitra juga mestinya kebagian harga yang sama. Kesetaraan harga ini bagian yang tak terpisahkan dari 17 SDG's.

Tapi yang ada justru, petani swadaya termarginalkan. Mereka cuma bisa menikmati harga yang angkanya jauh di bawah harga penetapan Dinas Perkebunan di 22 provinsi yang ada Apkasindonya. 

"Kayaknya petani sawit swadaya ini ditumbalkan. Salah satu topik acara FoSI ini kan gimana sawit Indonesia di 2045. Nah, jangan-jangan petani sawit swadaya ini sudah phase out (tersingkir) sebelum 2045," Gulat bergidik.

Bukan tanpa alasan dia bilang begitu. Soalnya selain dapat harga yang selalu murah, beban petani swadaya juga sangat berat. 

"Banyaknya persoalan yang dihadapi petani swadaya seolah-olah sengaja 'diternakkan'," Gulat memandangi dua lelaki itu. 

Padahal kata doktor ilmu lingkungan Universitas Riau ini, dari sekitar 6,87 juta hektar kebun petani kelapa sawit di Nusantara, 93% nya justru petani swadaya. 

“Jadi kalau kita bicara keberlanjutan, akan hampa kalau harga TBS petani swadaya masih seperti sekarang," Gulat memastikan. Bersambung...


 

Komentar Via Facebook :