https://www.elaeis.co

Berita / Bisnis /

Bursa CPO Indonesia Masih Minim Anggota

Bursa CPO Indonesia Masih Minim Anggota

Sekretaris Bappebti, Olvy Andrianita (kedua dari kiri) menyampaikan paparannya dalam diskusi Serial Kebijakan Sawit di Hotel Santika, Jakarta, Rabu, 15 Mei 2024. Foto: Taufik Alwie


Enam bulan berjalan, kinerja Bursa CPO Indonesia masih belum menggembirakan.

Tren perkembangannya lambat sekali. Setidaknya dilihat dari sisi jumlah anggota yang pertambahannya masih lelet.

Sejak diresmikan pada Oktober 2023 dengan jumlah 18 anggota, kini jumlah anggotanya baru mencapai 48. Masih sedikitnya anggota, praktis berpengaruh pada volume dan nilai penjualan.

Kesan kurang menggembirakan terhadap perkembangan Bursa CPO Indonesia ini mengemuka dalam diskusi Serial Kebijakan Sawit di Hotel Santika, Jakarta, Rabu, 15 Mei 2024.

Sekretaris Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) Olvy Andrianita yang tampil sebagai pembicara pertama di sesi pertama bertema “Bursa CPO” tersebut, sangat menyayangkan masih kurangnya minat pengusaha sawit untuk bergabung di Bursa CPO Indonesia.

“Masih banyak pengusaha yang belum tergerak hatinya untuk bermain di bursa CPO,” papar Olvy.

“Itulah kenapa belum tercipta liquid, ya karena pemainnya (di bursa CPO) belum banyak,” ia menambahkan.

Dari 48 perusahaan yang terdaftar di Bursa CPO Indonesia, sebanyak 40 di antaranya merupakan perusahaan yang tergabung dalam Gapki (Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit  Indonesia).

Jumlah ini masih secuil jika dibandingkan dengan jumlah total perusahaan kelapa sawit yang tercatat sebanyak 2.294 pada 2023.

Ketua Umum Apkasindo, Gulat Manurung, memberikan special address. Foto: Taufik Alwie

Bahkan jika dibandingkan dengan total perusahaan anggota Gapki yang berjumlah 727, jumlah anggota Bursa CPO Indonesia ini masihlah sangat kecil.

Pantaslah Olvy menyebutnya sebagai ‘masih kurang menggembirakan’.

Sementara itu, Acting Head of Trade & Promotion Division Gapki, Manumpak Manurung, yang tampil sebagai pembicara kedua, mengakui pula kalau baru sebagian kecil anggota Gapki yang masuk Bursa CPO.

“Saya rasa kalau di level perusahaan besar, sosialisasi sudah cukup masif. Tapi memang harus ada niat dari para pelaku usaha itu sendiri untuk masuk bursa CPO,” ujarnya.

Pada kesempatan terpisah, kepada elaeis.co Manumpak menambahkan bahwa Gapki mengharapkan kalau bisa semua anggotanya masuk bursa CPO.

Untuk itu pula, pengurus Gapki di banyak kesempatan telah mengimbau agar para anggotanya masuk bursa CPO, namun masih belum mendapat respon positif.

Alasan mereka, menurut Manumpak, macam-macam. Seperti, tidak menjual barang, atau pun sudah punya kontrak-kontrak penjualan secara langsung, sehingga merasa tidak perlu lagi ke bursa CPO.

Selain menampilkan Olvy Andrianita Manumpak Manurung, pada sesi pertama diskusi yang diselenggarakan sawitsetara.co itu juga menampilkan Nursalam, Direktur Utama Indonesia Commodity & Derivatives Exchange (ICDX), Nursalam, serta Triana Minarsih, Kepala Divisi Pendidikan SDM, Litbang dan Pengembangan Sarpras BPDPKS.

Sebelum para pembicara tampil di panggung, terlebih dahulu tampil Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Gulat Manurung, menyampaikan special address dengan gayanya yang khas dan menarik, lengkap dengan paparannya.

Pada salah satu bagian paparannya, ia menyebut kalau kehadiran Bursa CPO Indonesia sangat memberi manfaat, termasuk di hulunya kepada petani sawit yang tidak memproduksi CPO.

Menurut Gulat, sebelum ada bursa CPO, harga TBS (tandan buah segar) segitu-gitu saja meski harga CPO naik.

Nah, sesudah ada bursa CPO, harga TBS mulai terkoreksi naik mengikuti kenaikan harga CPO.

Banyak manfaat
Senada dengan Gulat Manurung, Sekretaris Bappebti Olvy Andrianita dalam paparannya menyebut bursa CPO di hulunya bermanfaat memperbaiki harga TBS.

Sementara di hilirnya, berguna untuk menetapkan Harga Patokan Ekspor (HPE) dan optimalisasi penerimaan negara dari pajak. Meski pun, untuk saat ini transaksi difokuskan untuk pasar lokal dulu, selanjutnya baru orientasi ekspor.

Manfaat lainnya, kata Olvy, menempatkan penjual dan pembeli pada same level playing field dan menjadi market influencer di pasar global.

Selain itu, “Harga acuan sendiri yang adil, transparan, akuntabel, dan real time,” kata Olvy.

Menyimak manfaat tersebut, Gulat manurung menyayangkan mengapa Indonesia baru kemarin (2023) memiliki bursa CPO, jauh ketinggalan dari Malaysia yang telah memiliki bursa CPO sejak 1980.

Selama berpuluh tahun Indonesia berkiblat pada harga refrensi CPO pada bursa di Malaysia dan Rotterdam.

“Terlalu lama kita membodoh sebagai negara produsen sawit terbesar dunia. Kita mengeksploitasi sumber daya alam (sawit), tapi sebagian manfaatnya dinikmati negara lain,” ujar Gulat kepada elaeis.co, dengan nada masygul.

Gulat pun berharap, Bursa CPO Indonesia dapat cepat berkembang, seiring makin banyaknya pelaku usaha sawit yang mau bergabung ke dalamnya.

Ia berpendapat, untuk dapat menarik pelaku usaha sawit sebanyak-banyaknya ke dalam bursa CPO, pemerintah harus memberikan banyak rangsangan atau insentif.

“Bisa berupa kemudahan, keringanan pajak, atau apalah. Sebab, sesuatu yang baru dimulai memang tidak gampang, harus diawali dengan banyak rangsangan,” kata Gulat.



 

Komentar Via Facebook :