https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

B50 Jadi Senjata Pamungkas Gibran Lawan Krisis Iklim

B50 Jadi Senjata Pamungkas Gibran Lawan Krisis Iklim

Uji jalan biodiesel B50 pada jenis kendaraan roda empat. foto: Kementan


Jakarta, elaeis.co – Di tengah ancaman nyata krisis iklim global, Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mendorong percepatan transisi energi bersih dengan menargetkan penerapan biodiesel B50 sebagai solusi strategis. Program ini dianggap sebagai senjata pamungkas Indonesia dalam mengurangi ketergantungan pada energi fosil dan mendorong pemanfaatan energi hijau berbasis kelapa sawit.

“Saat ini kita sudah punya B35, bahkan B40. Ke depan, Pak Presiden menargetkan B50. Kita punya potensi bioenergi besar, hingga 57 GigaWatt. Sawit, rumput laut, semua jadi kekuatan kita,” tegas Wapres Gibran dalam keterangan yang dikutip Sabtu (26/7).

Pernyataan itu menandai langkah tegas pemerintah dalam mempercepat penggunaan energi baru terbarukan (EBT), khususnya di sektor bioenergi. Biodiesel berbasis crude palm oil (CPO) tidak hanya menopang ketahanan energi nasional, tapi juga menjawab tantangan global soal emisi karbon dan perubahan iklim.

Penerapan B50, atau campuran 50 persen biodiesel dalam solar, akan dilakukan secara bertahap. 

Langkah mendorong B50 tidak bisa dipisahkan dari komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) 2060. Dalam konteks global, penggunaan biodiesel berbasis sawit adalah bentuk kontribusi konkret Indonesia dalam mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengatasi pemanasan global.

Gibran mengingatkan bahwa krisis iklim bukan sekadar ancaman masa depan, tapi sudah menjadi kenyataan yang menyentuh kehidupan sehari-hari: dari gagal panen, banjir bandang, sampai suhu ekstrem.

“Transisi energi ini bukan pilihan, tapi keharusan. Dunia sedang tidak baik-baik saja. Kita harus bergerak cepat,” ujarnya.

Di sisi lain, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan uji coba terbatas dimulai pada 2026. Langkah ini sekaligus menguji kesiapan pasokan bahan baku, infrastruktur distribusi, hingga kompatibilitas mesin kendaraan dan industri.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE), Eniya Listiani Dewi, menyatakan pemerintah tengah menyusun payung hukum baru lewat Permen ESDM No. 4 Tahun 2025.

“Bioenergi akan jadi kunci dalam transisi energi Indonesia. Tapi kita harus pastikan kesiapan, dari sisi CPO, logistik, dan teknologi,” ungkap Eniya.

Permen tersebut akan mengatur secara komprehensif pengembangan berbagai jenis bahan bakar nabati, mulai dari biodiesel, bioetanol, bioavtur, hingga hydrotreated plant oil (HPO).


 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :