Jakarta, elaeis.co – Pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan bakar terus diperluas. Jika selama ini pengembangan biofuel sawit banyak diarahkan untuk kendaraan darat, kini sektor penerbangan mulai menjadi sasaran melalui pengembangan J100, bahan bakar pesawat berbasis 100 persen sawit.

J100 dikembangkan sebagai avtur berbasis bahan baku nabati yang ditargetkan tidak lagi menggunakan campuran avtur fosil. Kehadiran bahan bakar ini menjadi bagian dari upaya Indonesia mendorong hilirisasi sawit sekaligus mencari alternatif energi untuk sektor penerbangan.

Mengutip informasi Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), pengembangan J100 merupakan langkah lanjutan setelah Indonesia mengembangkan dan menguji bioavtur J2.4.

Berbeda dengan J100, J2.4 masih menggunakan campuran bahan bakar nabati sebesar 2,4 persen. Porsi terbesar bahan bakarnya masih berasal dari avtur fosil.

Sementara itu, J100 diarahkan menggunakan bahan baku nabati secara penuh. Jika pengembangannya berhasil mencapai tahap komersial dan memenuhi seluruh persyaratan penerbangan, bahan bakar ini berpotensi membuka babak baru pemanfaatan sawit nasional.

Salah satu hal menarik dari J100 adalah bahan bakunya. Bahan bakar ini tidak menggunakan crude palm oil (CPO) sebagai bahan utama, melainkan refined, bleached and deodorized palm kernel oil (RBDPKO).

RBDPKO merupakan minyak inti sawit yang telah melalui proses pemurnian. Bahan tersebut berasal dari bagian inti atau kernel buah kelapa sawit.

Pemanfaatan RBDPKO memperlihatkan bahwa hilirisasi sawit tidak hanya berhenti pada produk pangan maupun oleokimia. Produk turunan inti sawit juga berpeluang diarahkan menjadi bahan bakar bernilai tambah tinggi.

Potensi tersebut menjadi penting bagi industri sawit Indonesia karena membuka kemungkinan pasar baru di luar penggunaan konvensional minyak sawit.