J100 juga tidak berdiri sendiri. Pengembangannya menjadi bagian dari rangkaian bahan bakar berbasis biohidrokarbon sawit yang mencakup D100 dan G100.

D100 diarahkan sebagai bahan bakar pengganti solar. Produk tersebut telah berhasil diproduksi di Kilang Dumai.

Sementara G100 dikembangkan untuk menggantikan bensin. Pengembangannya masih berada dalam tahap pengujian di Kilang Plaju.

J100 memiliki sasaran berbeda karena diperuntukkan bagi sektor penerbangan sebagai alternatif avtur berbasis fosil.

Ketiga jenis bahan bakar tersebut dikembangkan dengan dukungan teknologi Katalis Merah Putih, hasil kolaborasi Pertamina Research and Technology Centre dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).

Meski membawa ambisi besar, J100 saat ini belum dapat langsung digunakan secara komersial pada pesawat.

Pengembangan teknologi dan proses produksinya masih terus dilakukan. Pemanfaatan fasilitas kilang yang telah tersedia menjadi salah satu opsi dalam pengembangan bahan bakar tersebut.

Di sisi lain, pembangunan kilang khusus bahan bakar hijau juga terbuka untuk dikembangkan pada masa mendatang.

Tantangan terbesar J100 terletak pada standar bahan bakar penerbangan yang sangat ketat. Sebelum dapat digunakan secara luas, bahan bakar tersebut harus melewati serangkaian pengujian, evaluasi teknis, serta proses sertifikasi sesuai ketentuan yang berlaku.

Artinya, perjalanan J100 menuju penggunaan komersial masih membutuhkan proses panjang. Jika berhasil dikembangkan hingga tahap komersial, J100 berpotensi memberikan dimensi baru bagi industri sawit Indonesia.

Selama ini sawit dikenal luas sebagai bahan baku pangan, oleokimia, kosmetik hingga biodiesel. Melalui J100, produk turunan sawit berpeluang masuk lebih jauh ke sektor energi penerbangan.

Hal ini sekaligus memperkuat agenda hilirisasi karena nilai ekonomi komoditas tidak berhenti pada bahan mentah, tetapi dilanjutkan menjadi produk energi dengan nilai tambah lebih tinggi.

Pengembangan J100 juga menunjukkan semakin luasnya arah pemanfaatan sawit sebagai sumber energi. 

D100 menyasar kendaraan berbahan bakar diesel, G100 diarahkan untuk kendaraan bensin, sedangkan J100 membidik sektor penerbangan.

Dengan demikian, cita-cita menjadikan sawit sebagai salah satu sumber energi nasional tidak lagi hanya berbicara soal kendaraan di darat. 

Jika seluruh tahapan teknologi, pengujian dan sertifikasi dapat dilalui, minyak inti sawit berpotensi ikut mengantarkan energi terbarukan Indonesia hingga ke udara.