Kalbar, elaeis.co - Tempat penampungan sementara atau yang dikenal sebagai loading ramp di perkebunan kelapa sawit dinilai menjadi pengacau tata niaga kelapa sawit. Dampak buruk yang ditimbulkan membuat sejumlah pihak meminta agar tempat ini untuk ditutup.

Ketua Aspekpir Kalbar YS Marjitan mengatakan jika dilihat dari regulasi tata niaga, maka tidak ada diatur mengenai loading ramp tersebut. Sehingga ia mendukung jika loading ramp ditutup oleh pemerintah.

"Salah satu dampaknya ya koperasi seperti mati suri. Sebab tidak ada aktivitas jual beli dan sebagainya," ujarnya kepada elaeis.co, Kamis (2/3).

Menurutnya, selain lembaga koperasi yang rusak, kelompok tani juga tidak berfungsi atau berjalan. Sementara jika terjadi masalah, koperasi dan kelompok tani selalu dilibatkan.

"Jika kedua lembaga itu tidak berjalan, maka infrastruktur tidak juga dapat dirawat oleh pekebun. Karena memang membutuhkan sinergitas dalam satu lembaga," katanya.

Kemudian, lanjut Marjitan, kewajiban petani akan terabaikan.

Senada dengan Marjitan, Kadisbunak Kalbar, Heronimus Hero, mengatakan loading ramp tidak dikenal dalam tata niaga sawit. Sementara kemitraan menjadi yang terpenting untuk memastikan TBS dijual sesuai aturan.

Oleh sebab itu, pihaknya telah menyurati Dinas Perkebunan kabupaten/kota untuk menertibkan loading ramp tadi. Sebab kewenangan berada di pemerintah kabupaten/kota setempat.