Jakarta, elaeis.co - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit atau GAPKI melaporkan bahwa produksi crude palm oil (CPO) dan Palm Kernel Oil (PKO) pada bulan Mei 2026 turun dibandingkan April 2026.

Begitu juga dengan konsumsi dan ekspor CPO dan PKO juga turun lebih besar sehingga stok naik.

Kendati begitu, dari Januari-Mei 2026 produksi, konsumsi, dan ekspor industri kelapa sawit Indonesia menunjukkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun 2025.

Direktur Eksekutif GAPKI, Mukti Sardjono menjelaskan, produksi CPO pada Mei 2026 mencapai 4.165 ribu ton atau turun 7,01% dibandingkan April 2026 sebesar 4.479 ribu ton. 

Begitu juga dengan produksi PKO turun menjadi 387 ribu ton dari 424 ribu ton pada April. Dengan demikian, total produksi CPO dan PKO pada Mei 2026 mencapai 4.552 ribu ton atau turun 7,16% dibandingkan April sebesar 4.903 ribu ton. 

"Secara kumulatif Januari–Mei 2026, total produksi mencapai 25.013 ribu ton, lebih tinggi 10,68% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 22.600 ribu ton," kata Mukti, Rabu (15/7). 

Begitu juga dengan total konsumsi dalam negeri pada Mei 2026 mencapai 2.078 ribu ton atau turun 2,98% dibandingkan April
sebesar 2.141 ribu ton. 

Penurunan konsumsi terjadi pada sektor biodiesel yang mencapai 1.035 ribu ton, atau turun dari 1.137 ribu ton pada April. Sementara konsumsi pangan naik sedikit menjadi 856 ribu ton dari 831 ribu ton di bulan April, demikian juga konsumsi oleokimia yang naik menjadi 187 ribu ton dari 173 ribu ton pada bulan April. 

Secara kumulatif Januari–Mei 2026, total konsumsi dalam negeri mencapai 10.743 ribu ton, lebih tinggi 5,33% dibandingkan periode yang sama tahun 2025 sebesar 10.200 ribu ton.

Sedangkan total ekspor produk sawit pada Mei 2026 hanya mencapai 1.996 ribu ton, atau turun 28,14% dibandingkan April sebesar 2.777 ribu ton. 

Penurunan terjadi pada ekspor olahan minyak sawit yang hanya mencapai 1.423 ribu ton dari 2.041 ribu ton (-30,26%), ekspor CPO menjadi 31 ribu ton dari 153 ribu ton (-79,7%), ekspor olahan minyak inti sawit menjadi 55 ribu ton dari 97 ribu ton (-43,4%). 

Meskipun demikian, secara 
kumulatif Januari-Mei 2026, total ekspor mencapai 13.320 ribu ton, lebih tinggi 10,26% dibandingkan 
periode yang sama tahun 2025 sebesar 12.080 ribu ton.