Rengat, elaeis.co - Petani kelapa sawit di Desa Sungai Raya, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, berpendapat bahwa biaya perawatan kebun di atas lahan gambut tergolong murah ketimbang berada di tanah mineral.
Bahtiar, salah satu pekebun kelapa sawit, mengaku telah menjalani proses itu dengan melakukan kalkulasi kasar soal hasil produktivitas perkebunan pada dua golongan kultur tanah tersebut.
"Dalam pemupukan untuk kebun sawit pada gambut cukup dua kali dalam setahun, dan hasil panen tandan buah segar (TBS) masih sesuai dengan luasan tanaman namun apabila terjadi merosot tidak terlalu jauh," katanya kepada elaeis.co saat berkomunikasi menggunakan telepon seluler, Kamis (2/2).
Berbeda dengan perkebunan kelapa sawit di lahan mineral, terang Bahtiar, dalam satu tahun perlu merogoh kocek cukup besar pada situasi harga pupuk saat ini yang belum terjangkau. Sebab dalam satu tahun kebun memerlukan pemupukan sebanyak empat kali.
"Artinya dalam pertiga bulan sekali rutin tanaman itu dipupuk, apabila terlambat diprediksi bakal celaka terhadap hasil panen yang melorot sangat signifikan ," ujarnya.
Dia merinci, perbandingan biaya perawatan pada masing-masing kultur tanah apabila berisi kebun kelapa sawit sebanyak dua hektar maka yang irit budget berada pada lahan gambut sebesar Rp 6 juta/tahun dengan harga pupuk NPK saat ini.
"Jika kebun sawit di areal mineral bisa merogoh kocek sampai 12 juta/tahun lantaran empat kali dalam setahun untuk memenuhi kebutuhan kebun yakni pupuk," pungkasnya.
Biaya Kebun Sawit di Lahan Gambut Lebih Murah, Petani Pemupukan Cukup 2 Kali Setahun
Diskusi pembaca untuk berita ini