Jakarta, elaeis.co - Isu kenaikan harga minyak goreng kembali bikin gaduh. Di tengah kekhawatiran masyarakat, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman angkat bicara dengan nada tegas. Ia memastikan program biodiesel B50 bukan penyebab mahalnya minyak goreng di pasaran.

Dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian, Senin (20/4), Amran bahkan melontarkan peringatan keras kepada produsen yang diduga memainkan harga. Ia menegaskan pemerintah tak akan ragu mengambil tindakan.

“Suruh saja naikkan, aku turun tangan nanti. Produsen yang bermain-main, aku cek. Kalau melanggar, kami tindak bersama Satgas,” katanya.

Pernyataan ini langsung jadi sorotan, apalagi pemerintah kini memperketat pengawasan lewat Satuan Tugas (Satgas) guna memastikan harga tetap sesuai aturan. Amran menegaskan praktik mencari untung berlebihan di tengah kebutuhan pokok masyarakat tidak bisa ditoleransi. 

Di tengah polemik, program B50 sempat dituding sebagai penyebab kenaikan harga minyak goreng. 

Namun Amran dengan tegas membantah. Ia menjelaskan, bahan baku B50 berasal dari alokasi ekspor crude palm oil (CPO), bukan dari pasokan domestik untuk minyak goreng. “B50 ini bukan diambil dari minyak goreng, tapi dari ekspor. Jadi tidak ada hubungannya,” ujarnya.

Menurutnya, dengan produksi sawit yang justru meningkat, logikanya harga minyak goreng harusnya stabil. Ia menyebut kondisi saat ini sebagai anomali pasar.

“Kalau produksi naik tapi harga ikut naik, itu tidak masuk akal. Bisa jadi ada permainan di tengah,” ucapnya.

Amran juga menyoroti kemungkinan adanya gangguan dalam rantai distribusi. Ia menyebut, kenaikan harga di tengah pasokan melimpah patut dicurigai.

“Minyak goreng melimpah tapi harga naik, berarti ada yang tidak beres,” katanya.

Pemerintah, lanjut dia, akan menelusuri jalur distribusi dari hulu ke hilir. Jika ditemukan pelanggaran, sanksi tegas siap dijatuhkan.

Tak hanya produsen, Amran juga mengingatkan para importir agar tidak mengambil keuntungan berlebihan. Ia menilai, dalam situasi global yang penuh tekanan, pelaku usaha harus lebih bijak.

“Importir sudah untung puluhan tahun. Sekarang saatnya peduli. Jangan ambil keuntungan semena-mena,” tegasnya.

Ia bahkan mengancam akan mengevaluasi izin impor jika ditemukan praktik yang merugikan masyarakat.

Di sisi lain, pemerintah memastikan produksi sawit nasional dalam kondisi aman, bahkan meningkat. Hal ini seharusnya menjadi faktor penyeimbang harga di pasar.

Menutup pernyataannya, Amran memastikan pemerintah akan terus mengawal stabilitas harga. Pengawasan diperketat, distribusi diawasi, dan pelaku usaha yang melanggar akan ditindak tegas.