Mamuju Tengah, elaeis.co – Kabar baik datang dari sektor perkebunan sawit di Sulawesi Barat. Setelah sempat dilanda antrean panjang dan gejolak harga, kini kondisi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, mulai kembali normal. 

Aktivitas distribusi Tandan Buah Segar (TBS) kembali lancar, sementara harga di tingkat pabrik juga terpantau stabil di kisaran Rp1.780 per kilogram.

Perubahan situasi ini membuat petani sawit mulai sedikit bernapas lega setelah beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan harga dan kepadatan pengiriman ke pabrik.

Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mamuju Tengah, Irfan, mengatakan bahwa pihaknya langsung turun ke lapangan untuk memastikan kondisi riil setelah muncul keresahan di kalangan petani. 

Inspeksi mendadak dilakukan ke sejumlah PKS di wilayah tersebut untuk memverifikasi situasi distribusi dan harga.

“Kami memang diminta untuk turun langsung, memastikan kondisi di lapangan. Sekarang antrean sudah mulai normal, tidak seperti beberapa hari lalu yang sempat padat,” ujar Irfan, Kamis (28/5).

Berdasarkan pantauan SPKS, beberapa pabrik besar di Mamuju Tengah kini sudah tidak lagi mengalami penumpukan kendaraan pengangkut sawit. Di PT Trinity Palmas Plantation (TPP) yang berlokasi di Tabolang, Kecamatan Topoyo, antrean truk dilaporkan sudah kembali lancar.

Hal serupa juga terjadi di PT Mitra Andalan Sawit (MAS) di Barakkang, Kecamatan Budong-Budong, di mana aktivitas bongkar muat TBS kembali berjalan normal tanpa hambatan berarti.

Sementara itu, kondisi di PT Surya Lestari Raya (SLR 2) di Desa Babana masih dalam pemantauan, meski belum ada laporan gangguan signifikan di lapangan.

Dari sisi harga, kondisi juga mulai menunjukkan kestabilan. Saat ini, harga pembelian TBS di tingkat pabrik berada di kisaran Rp1.700 hingga Rp1.780 per kilogram. Angka ini dinilai lebih stabil dibandingkan beberapa pekan sebelumnya yang sempat mengalami tekanan akibat ketidakpastian distribusi.

Di sejumlah pabrik, seperti PT MAS dan TPP, harga pembelian bahkan sudah konsisten di angka Rp1.780 per kilogram.

Namun, kondisi berbeda masih dialami petani yang menjual melalui jalur tengkulak atau pengepul. Di tingkat ini, harga sawit masih berada di bawah, yakni sekitar Rp1.200 hingga Rp1.400 per kilogram. Selisih harga yang cukup jauh ini masih menjadi persoalan klasik di rantai distribusi sawit.

Fluktuasi harga yang terjadi beberapa waktu lalu diduga kuat dipengaruhi oleh perubahan kebijakan ekspor Crude Palm Oil (CPO) yang dilakukan pemerintah pusat. Menurut pihak perusahaan, kebijakan yang berubah secara cepat sempat menimbulkan ketidakpastian di tingkat industri.

Humas PT Mitra Andalan Sawit (MAS), Joel, menyebut bahwa saat kebijakan baru diberlakukan, banyak perusahaan belum siap dengan mekanisme distribusi yang berubah.

“Tiba-tiba ada perubahan aturan ekspor, dan itu membuat sebagian perusahaan sempat menahan distribusi karena menunggu kepastian pasar,” jelasnya.

Meski begitu, Joel menegaskan bahwa kondisi kini mulai membaik. Perusahaan mulai menyesuaikan diri dengan regulasi baru, sehingga alur distribusi kembali berjalan normal.