https://www.elaeis.co

CLOSE ADS
CLOSE ADS
Berita / Sulawesi /

Petugas Pengendali Diminta Kuasai Ilmu Penyakit Busuk Pangkal Batang Sawit

Petugas Pengendali Diminta Kuasai Ilmu Penyakit Busuk Pangkal Batang Sawit

Pertemuan petugas pengendali OPT perkebunan. foto: Disbun Sulbar


Mamuju, elaeis.co - Bidang Perlindungan Dinas Perkebunan (Disbun) Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) melaksanakan pertemuan untuk memberi pengenalan hama dan penyakit tanaman unggulan perkebunan.

Kegiatan ini dilaksanakan secara hybrid dipusatkan di Ruang Bidang Perlindungan dan diikuti Staf Disbun Sulbar, Pembantu Lapang Petugas Tenaga Kontrak Pendamping (PLP-TKP) Sulbar, dan undangan lainnya.

Kabid Perlindungan Disbun Sulbar, Hartati Pawelloi mengatakan, sebagai petugas pengendali Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) harus memahami jenis OPT komoditas perkebunan, faktor penyebab, gejala serangan, teknik pengendalian apa saja yang dapat dilakukan untuk perlindungan tanaman, keseimbangan ekosistem, pengembangan aspek ekonomi, kesehatan, dan konservasi sumber daya.

Kadis Perkebunan Sulbar, Herdin Ismail, juga mengingatkan bahwa pengendalian OPT bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup pekebun. "Salah satunya upaya yang dilakukan yakni dengan cara melindungi hasil panen dari serangan OPT secara holistik dan berkelanjutan," jelasnya dalam rilis Disbun Sulbar dikutip Senin (1/4).

Pada pertemuan tersebut, materi dibawakan oleh Surya yang merupakan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) Tanaman Perkebunan Bidang Perlindungan Disbun Sulbar. Sebelum pemaparan materi dilakukan pre-test dan diberikan kepada peserta kegiatan. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana pemahaman peserta terkait materi sebelum dibawakan oleh pemateri.

Adapun materi yang disampaikan adalah salah satu penyakit utama pada tanaman kelapa sawit, yaitu penyakit Busuk Pangkal Batang (BPB). Penyakit ini disebabkan oleh jamur Ganoderma. Cendawan diketahui tidak hanya menyerang tanaman kelapa sawit pada tahap produksi saja tetapi juga dapat menyerang selama tahap pembibitan.

Ganoderma menginfeksi pada jaringan akar tanaman yang kemudian tumbuh dan berkembang di bawah permukaan tanah. Awalnya, penyakit Ganoderma diduga menyerang tanaman menghasilkan saja dan secara ekonomi tidak berbahaya, dengan kejadian penyakit masih <1%. Namun beberapa tahun terakhir ini Ganoderma telah menjadi satu masalah yang paling serius terutama pada satu atau lebih dari 2 generasi tanam. Di beberapa kebun di Indonesia, Ganoderma telah menyebabkan kematian kelapa sawit hingga 80%.

"Pengendalian Ganoderma ini dibagi menjadi dua pendekatan, yaitu pendekatan jangka pendek dan jangka panjang. Pengendalian jangka pendek bertujuan untuk mengurangi laju infeksi penyakit melalui kegiatan kultur teknis (sanitasi) dan hayati. Sedangkan dalam jangka panjang penggunaan bahan tanaman yang parsial toleran Ganoderma melalui serangkaian penelitian," jelas Surya.

Pada sesi diskusi terdapat beberapa masukan dari peserta, salah satunya meminta perlu diadakan kegiatan sosialisasi kepada petani mengenai penyakit ini. Salah seorang THL-PP mengungkapkan, gejala penyakit tersebut sudah mulai terlihat pada beberapa kebun sawit petani, tetapi petani belum terlalu aware dengan serangan yang lebih buruk yang akan terjadi di masa akan datang.

Diharapkan dengan penyebarluasan informasi kegiatan pengenalan hama dan penyakit tanaman perkebunan secara rutin tiap pekan, para petugas POPT dapat membedakan jenis hama apa yang menyerang melalui dari ciri-ciri fisik serta gejala serangan yang ditimbulkan, serta mengetahui cara pengendalian yang efektif untuk diaplikasikan pada tanaman yang sakit. Selanjutnya, petugas POPT dapat memberi pemahaman kepada pekebun untuk menerapkan Pengelolaan Hama Terpadu (PHT).

"Dengan meningkatnya pemahaman terkait penanganan serangan OPT pada tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit, produksi menjadi meningkat dan dapat meningkatkan taraf hidup pekebun di Sulbar," tutupnya.


 

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :