https://www.elaeis.co

Berita / Jenggi /

Negara Dalam Sebuah Paradoks

Negara Dalam Sebuah Paradoks

ilustrasi. foto: pixabay.com


Negara menjadi ironi dan musuh baru bagi rakyatnya. Ketika ia dipimpin para penjahat dan oligarki yang menguras. Tapi beberapa tiran mampu menciptakan paradoks, jika itu pantas disebut paradoks.
 

Negara adalah kata benda abstrak. Ia tinggal di dalam imajinasi kita. Ia dibentuk dari fantasi dan angan-angan, sebuah rumah imajiner raksasa yang dihuni bersama. 

Negara dibangun dari tonggak-tonggak kecemasan dan pidato-pidato. Banyak negara dikandung di dalam rahim perang dan penjajahan, lalu lahir saat perang usai. Setiap negara lahir, ibunya mati. Negara diasuh oleh bapaknya, negara dibesarkan dengan maskulinitas, dengan kejantanan spartan untuk mengokang senjata sewaktu-waktu.

Ketika negara menjadi rumah kecemasan bersama dari anasir-anasir neo-kolonialisasi, negara bahkan menjadi musuh dalam selimut, ketika ia dipimpin oleh para tirani jahat. Negara menjadi musuh baru berikutnya.

Selama perang, diktator Paraguay, Francisco Solano Lopez (1827–1870) dan isterinya Eliza Lync telah menguras habis kekayaan negeri itu. Ia kirimkan semua cadangan kekayaan negara ke luar negeri, merampok perhiasan para wanita desa, mencaplok tanah lalu menjarah rumah dan gereja.

Baca juga: Pustaka dan Petaka

Presiden Republik Afrika Tengah, Jean Bedel Bokassa (1921–1996) bahkan dinobatkan sebagai salah satu tiran paling kejam di abad modern. Ratusan anak sekolah dibunuh gegara menolak mengenakan seragam yang dibuat oleh pabrik miliknya. Ia memulai pemerintahan teror, menguasai seluruh jabatan pemerintahan bagi dirinya sendiri. Bahkan ia sendiri yang mengawasi penyiksaan pengadilan.

Pada 1977, untuk menyamai idolanya Napoleon, ia mengangkat diri sendiri sebagai kaisar dari Republik Afrika Tengah dalam sebuah upacara senilai 200 juta dolar, yang langsung membangkrutkan negara itu. Bakossa menduduki singgasana dengan mahkota berlian seharga 5 juta dolar.

 

Negara menjadi ironi dan musuh baru bagi rakyatnya. Ketika ia dipimpin para penjahat dan oligarki yang menguras. Tapi beberapa tiran mampu menciptakan paradoks, jika itu pantas disebut paradoks. 

Qin Shi Huang, bapak pertama dinasti Qin, adalah tukang perintah pembunuhan para sarjana yang idenya tidak dia setujui serta pembakaran habis-habisan buku-buku kritis. Namun di saat bersamaan ia menyatukan China pada 221 SM dan memerintahkan pembangunan tembok besar, secara kasar. Tanpa pria kasar, pembunuh dan tukang kebiri orang asing ini, China tak akan pernah punya Tembok Besar.

Hidup ini dikelilingi oleh paradoks. Beberapa paradoks dapat memiliki sebuah jawaban, meskipun banyak yang tetap tak terpecahkan, atau hanya terpecahkan dengan perdebatan. Paradoks cukup efektif untuk membuat kegempaan dalam pikiran. Apakah negara adalah sebuah paradoks?

Dalam kondisi faktual kita menemukan paradoks pada penarikan pajak oleh negara. Negara secara ideal bertugas untuk menjamin kesejahteraan publik. Namun di waktu bersamaan negara menarik pajak dan pungutan lainnya dari rakyat. Penarikan pajak itu berakibat kepada menurunnya kesejahteraan. 

Namun sebaliknya jika negara tidak menarik pajak dan pungutan apapun, maka negara tidak bisa menjalankan fungsinya untuk menyejahterakan rakyat. Sedangkan untuk tetap menjalankan fungsi itu, negara harus menarik pajak dan biaya-biaya pelayanan.

Sama seperti paradoks abadi semisal paradoks pembohong Epimenides, paradoks Pinokio, dan paradoks grandfather, pertanyaan tersebut tidak akan terjawab sampai kita tahu untuk apa sebenarnya tarikan dan pungutan itu digunakan.

 

Paradoks ini akan berakhir bila tercipta suatu kondisi bahwa dana yang sudah ditarik dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk yang lain termasuk subsidi-subsidi, sehingga kesejahteraan yang berkurang akibat penarikan dan pungutan segera tergantikan. 

Namun apakah kondisinya akan seperti itu, bila kemudian yang dikembalikan kepada rakyat berupa pembangunan fasilitas, subsidi dan pelayanan publik ternyata dibiayai dari pos yang lain seperti utang negara atau bantuan luar negeri. Sedangkan pajak yang ditarik telah habis digunakan untuk membiayai dirinya sendiri dalam rangka mempertahankan tabiat bermewah-mewah dan boros, sebagai misal. 

Pencabutan subsidi BBM beberapa waktu lalu, telah membuktikan bahwa negara tidak sekadar mampu menciptakan paradoks, tapi juga kontraproduktif, negara berperan antagonis terhadap cita-cita utopis kesejahteraan rakyat. 

Kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di dalam sana, ketika negara mengumumkan subsidi BBM membengkak sekian ratus triliun. Siapa yang kemudian bisa membuktikan, bahwa pencatatan angka secara accrual basis tersebut memang mewakili fakta, atau hanya manipulasi angka-angka. Mana Bjorka?

Taruhlah itu benar, subsidi telah menghabiskan anggaran, mestinya negara berdiri paling depan dan berpikir keras, karena turbulensi yang diciptakan oleh kenaikan BBM kali ini sangat kuat, multiplier effect-nya menyapu semua sektor, memiskin dengan cepat. Sementara BLT hanyalah aspirin.


Selengkapnya baca di Elaeis Magazine edisi September 2022. Untuk pemesanan silahkan hubungi: 082286742091-081268378797 

Muhammad Natsir Tahar
Komentar Via Facebook :