https://www.elaeis.co

Berita / Jenggi /

Pustaka dan Petaka

Pustaka dan Petaka

ilustrasi. foto: pixabay.com


Awan gelap pekat menyeliputi langit Eropa. London dan Paris adalah tapak bagi dusun- dusun kecil merempat, jejeran bagi gubuk–gubuk rapuh, beratap jerami yang becek dan berlumpur bila penghujan tiba. 

Bule–bule berkulit pucat mendekap di ruang–ruang sesak, seatap dengan binatang ternak: ayam, kambing dan babi. Seketika kegelapan itu sirna, mereka berhasil lulus dari kutukan berabad–abad, setelah mantra penawar ditemukan dari kitab–kitab klasik.

Mereka, umat berkulit pucat dari belahan bumi yang miskin sinar matahari dan miskin segalanya. Tetiba tangan–tangan mereka mengenggam dunia. Eropa bangkit dan berdiri di barisan terdepan peradaban manusia.

Bukan lukisan Mona Lisa dari Leonardo da Vinci yang membuat Eropa menyingsing dari kubangan, bukan pula Patung David yang dipahat Michelangelo.

Kunci besar renaisans itu adalah perburuan pemikiran canggih zaman klasik secara massif di seluruh perpustakaan Eropa oleh pemikir pratama mereka yakni Petrach, Braciolini, Salutati, Niccoli dan Medici.

Renaisans menjadi gerakan massal penyerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang memungkinkan manusia Eropa yang tadinya sangat bodoh dan miskin menjadi paham filosofi, bagaimana alam bekerja, merakit senjata api dan membangun kapal–kapal yang mengarungi samudra. Padahal sebelum pencerahan tiba, para ilmuan apapun dikejar tunggang langgang dengan tuduhan menyiarkan sihir.

Kebangkitan Eropa bermula dari Italia, kota Florence. Kontak mereka dengan peradaban Islam di Andalusia dan Byzantium menghasilkan ikatan dagang yang membuat Florence sangat makmur. Penguasanya ketika itu, keluarga klan Medici melakukan dobrakan untuk kota dan warganya yang kemudian memicu kebangkitan seluruh Eropa. 

Mereka memasuki musim ilmu --- dan tidak ada lagi musim lain setelah itu --- untuk menyerap seluruh kecerdasan dari apalagi kalau bukan buku dan perpustakaan.

Baca juga: Lubang Hitam Hawking

Buku bagi orang Eropa di masa itu, seperti barang azimat yang jatuh dari angkasa seolah sebelum itu tidak ada benda apapun yang memiliki tingkat kesaktian tertinggi selain buku. Mereka berikrar untuk tidak akan berpisah dengannya.

Padahal Eropa terlambat 700 tahun dari peradaban Islam dalam soal kecerdasan yang direguk dari buku–buku. Intelektual Muslim Averroes dan Avicenna juga faktor penentu. Merekalah yang menepuk bahu Eropa seolah mengatakan, “hei, kalian punya Socrates, Plato dan Aristoteles berabad silam, maka bangkitlah.!”.

Demikian pula perpustakaan. Bagi mereka itu adalah ruang ajaib, wahana untuk memasung semua kenaifan, mengelupas tudung kebodohan yang menyeliput otak–otak mereka selama ini. Mereka kemudian menjadikan perpustakaan sebagai tempat piknik yang dibangun sedemikian gagah berani. Pustaka bagi mereka adalah elemen yang sangat esensial dalam pembentukan intelegensi peradaban.

Padahal 2000 tahun sebelum abad 18 (renaissance), Ptolemy I Soter telah mendirikan perpustakaan Alexandria yang memiliki tujuan raksasa, yaitu mengumpulkan semua tulisan dan ide yang pernah ditulis bani Adam. 

Perpustakaan megah itu berdiri di antara kumpulan gedung, termasuk untuk tempat diskusi dan kuliah umum, ruang belajar, ruang makan, taman yang indah dan sebuah tempat pengamatan astronomi. Tapi siapa kemudian yang menjadi pemuncak? Jawabnya Eropa, karena mereka sangat menghargai buku dan perpustakaan meskipun agak terlambat.

Ketika buku menjadi teman tidur, petani kentang dan peternak babi Eropa pun bercita – cita menjadi pengarung dunia. Didukung oleh revolusi industri, kapal dan senjata, ilmu pengetahuan yang sedianya untuk meninggikan peradaban dan akal budi, dibelokkan kepada hal–hal yang merusak.

Ini lagi–lagi gegara Indonesia. Tak tahu mengapa kepulauan zamrut Khatulistiwa ini tanpa sengaja menjadi titik tolak perubahan radikal pada dunia. 

 

Orang Eropa ini, lidahnya pantang diajar. Setelah mereka tahu rasa enak makan itu berasal dari rempah – rempah Nusantara, mereka ingin menemukan sumbernya, alkisah membeli dari pedagang Andalusia, alangkah mahalnya.

Ekspedisi bangsa Eropa pun dimulai untuk mencari Kepulauan Rempah–rempah itu (baca: Nusantara). Penjelajahan pertama oleh Portugis di bawah Bartholomeus Diaz hanya mencapai setengah jalan.

Spanyol yang berharap menemukan jalan pintas, mau tidak mau harus membiayai Chistoper Columbus yang punya ide untuk pergi ke Timur dengan cara aneh, berlayar ke arah Barat. Columbus percaya mutlak kepada Ptolemeus, Copernicus dan Galileo yang mengajarkan kepada Eropa bahwa bumi itu bulat.

Bukannya sampai lebih cepat apalagi menemukan rempah-rempah, ia justru mendapatkan bongkahan besar penghalang, dihuni bangsa pribumi yang mengikat kepala dengan bulu merak. 

Columbus menamakan daratan penghalang besar itu sebagai Amerika dengan mengambil nama temannya Amerigo Vespucci. Ia juga menyebut kaum pribumi itu Indian karena menganggap Amerika sebagai India (Timur).

Dengan bekal pengetahuan dan teknologi dalam genggamannya, orang Eropa menjadi petaka bagi dunia terbelakang. Mereka pun menghancurkan peradaban Aztec, Inca dan Indian di Amerika, Aborigin di Australia dan Maori di Selandia Baru.

Dengan kapal–kapal mesin uap, mereka mengangkut budak–budak Afrika untuk menjadi petani tembakau di Amerika atau pemuda–pemuda dari daratan Cina sebagai buruh kasar perkebunan teh di Sumatera Timur. Petaka serupa menimpa pribumi Indonesia sebagai tujuan awal ekspedisi Eropa. Ratusan tahun lamanya bangsa ini gemetar di bawah todongan senjata.

Buang yang keruh ambillah yang jernih. Sisi malaikat Eropa adalah kegairahan belajar dan menghargai ilmu pengetahuan. Sisi iblisnya adalah penjajahan dan penghisapan. Maka ambil sisi malaikat itu dengan menegakkan perpustakaan megah macam Eropa. 

Setiap kota bisa menjadi kota baca, kota pustaka, kota cendikia dan perpustakaan super megah yang menyimpan jutaan buku terbaik di dunia. Sulit mana dibanding Eropa masa lalu? Ketika ilmu mesin cetak belum kelar di otak Gutenberg, harga satu buku ada yang menyamai mobil Roll Royce, tapi mereka membelinya untuk dijadikan koleksi pustaka. 



 

Muhammad Natsir Tahar
Komentar Via Facebook :