https://www.elaeis.co

Berita / Sumatera /

Di Sumut, Biar Miskin Asal Merokok

Di Sumut, Biar Miskin Asal Merokok


Medan, Elaeis.co - Indonesia dan banyak negara di dunia saat ini dilanda pandemi Covid-19. Khusus Indonesia, pandemi ini telah membuat banyak sektor ekonomi tidak bergerak sehingga banyak memunculkan kemiskinan baru. Walau berada dalam garis kemiskinan, namun konsumsi rokok kretek dan filter tetap tinggi.

Di Sumatera Utara contohnya. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut, sejumlah komoditas malah menjadi penyumbang terhadap garis kemiskinan, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Yang menarik, dua komoditas menjadi penyumbang teratas bagi garis kemiskinan di perkotaan maupun pedesaan di Sumut.

Kepala BPS Sumut, Syech Suhaimi, melalui siaran langsung di kanal YouTube BPS Sumut yang ditengok Elaeis.co, Senin (2/8), menyebutkan dua komoditas itu adalah beras dan rokok kretek dan filter. 

"Untuk perkotaan, beras menyumbang garis kemiskinan sebesar 19,56%, pedesaan 27,65%. Lalu rokok kretek dan filter, perkotaan 12,60% pedesaan 11,35%," kata Syech Suhaimi.

Data ini menunjukan tingkat konsumsi penduduk Sumatera Utara terhadap rokok masih sangat besar. Selain beras dan rokok, ada 18 komoditas lainnya yang menyumbang garis kemiskinan di perkotaan dan pedesaan di Sumut, termasuk perumahan, listrik, pendidikan, dan lainnya. Total penyumbang garis kemiskinan untuk perkotaan sebesar 73,28% dan pedesaan 77,67%.

Namun berita baiknya, seperti yang diumumkan Syech Suhaimi, adalah terjadinya penurunan jumlah penduduk miskin dalam kurun enam bulan. 

"Pada bulan September 2020, jumlah penduduk miskin di Sumut sebanyak 1.356,72 ribu jiwa. Sementara pada bulan Maret 2021 menjadi 1.343,86 ribu jiwa, atau turun 12,86 ribu jiwa. Atau secara persentase, di bulan September 2020 jumlah penduduk miskin di Sumut 9,14%, lalu di bulan Maret 2021 menjadi 9,01% atau turun 0,13 poin," kata Syech Suhaimi.

Penurunan jumlah warga kemiskinan ini berkorelasi dengan relaksasi kebijakan pemerintah pusat terkait penanganan pandemi Covid-19. Syech menyebutkan perbaikan kondisi perekonomian Sumut terjadi di triwulan pertama tahun 2021, yang sempat menurun di triwulan ketiga tahun 2020.

"Pertumbuhan tertinggi di triwulan pertama tahun 2021 lalu terjadi pada pengeluaran untuk sektor transportasi, komunikasi, restoran, dan hotel, yang justru terpuruk saat triwulan ketiga tahun 2020 lalu," tegas Syech.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :