Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Riau Syahrial Abdi mengatakan kelapa sawit memiliki posisi strategis bagi Indonesia, khususnya bagi Riau yang menjadi salah satu sentra perkebunan sawit nasional.

Menurut Syahrial, tantangan industri sawit ke depan adalah meningkatkan kelas industri sehingga manfaat ekonomi yang diterima masyarakat juga semakin besar.

Dia mengatakan Pemerintah Provinsi Riau terus mendorong penguatan sumber daya manusia, sarana dan prasarana, serta pembenahan tata kelola industri sawit. 

Upaya tersebut juga mencakup pengaturan harga bagi pekebun yang bermitra dan peningkatan sertifikasi.

Syahrial menekankan peningkatan produksi sawit tidak harus dilakukan melalui pembukaan atau perluasan lahan baru. Produktivitas kebun yang sudah ada dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan produksi sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Syahrial juga mengapresiasi penyelenggaraan SIEXPO yang dinilai konsisten dan menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun. Pada penyelenggaraan 2026, jumlah pengunjung disebut telah mencapai sekitar 9.600 orang dan diproyeksikan menembus 10.000 pengunjung hingga hari terakhir.

Dalam kesempatan tersebut, Syahrial menyampaikan apresiasi kepada Menteri PPN/Kepala Bappenas yang telah mendengarkan aspirasi daerah, termasuk terkait pengembangan sumber daya manusia di sektor sawit.

Dia menyebut sekitar 20% perkebunan sawit Indonesia berada di Riau. Dengan proporsi tersebut, Riau juga memperoleh sekitar 20% dari dana yang dikucurkan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), termasuk untuk program beasiswa sawit.

“Terima kasih kepada Pak Menteri yang mendengarkan aspirasi kami. Saya waktu menjadi Kadis Perkebunan terus memperjuangkan karena rasio 20% sawit Indonesia ada di Riau,” ujarnya.