Bengkulu, elaeis.co - Masih mahalnya harga pupuk non subsidi membuat pemerintah dalam waktu dekat akan memberikan subsidi untuk pupuk organik.
Tujuannya, selain untuk memudahkan petani kelapa sawit mendapatkan pupuk, juga untuk memperbaiki kualitas lahan akibat penggunaan pupuk kimia.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (DTPHP) Provinsi Bengkulu, Helmi Yuliandri mengatakan, Kementerian Pertanian akan kembali menyubsidi pupuk organik untuk mengatasi mahalnya harga pupuk kimia.
"Kita berharap itu segera terealisasi, supaya petani kita yang kesulitan membeli pupuk kimia bisa menggunakan pupuk organik dengan harga lebih terjangkau," kata Helmi, Senin (1/5).
Menurutnya, pemberian pupuk organik diharapkan akan mengembalikan kualitas lahan pertanian dan perkebunan yang telah terdegradasi akibat penggunaan pupuk kimia.
"Untuk menyuburkan kembali tanah, salah satunya melalui penggunaan pupuk organik," tuturnya.
Dia menambahkan, petani yang menggunakan pupuk organik bisa menghemat biaya pokok produksi. Jika dengan pupuk konvensional petani harus mengeluarkan Rp 5.050 per kilogram, maka dengan menggunakan pupuk organik hanya butuh Rp 3.700 per kilogram.
"Selisihnya lumayan signifikan," ujarnya.
Ketua DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Bengkulu, Jakfar mengapresiasi rencana pemerintah tersebut. Hanya saja dia mengingatkan bahwa pupuk organik dan anorganik atau kimia memiliki karakteristik yang berbeda.
"Pupuk organik lebih fokus untuk kesuburan tanah, sedangkan pupuk kimia berfungsi langsung kepada pertumbuhan tanaman. Jadi, pupuk organik efeknya tidak langsung kepada tanaman," tukasnya.
"Tapi pupuk anorganik juga punya beberapa kelemahan. Harganya relatif mahal, mudah larut, dan mudah hilang. Selain itu, bisa menimbulkan polusi pada tanah apabila diberikan dalam dosis yang tinggi, bisa juga membuat tanaman stres jika dosisnya berlebih," imbuhnya.
Meski begitu, dia berharap pemerintah juga memberikan subsidi untuk pupuk anorganik. "Sebab harganya mahal meski Indonesia kaya akan sumber daya alam yang bisa dijadikan sebagai sumber material pupuk anorganik," ucapnya.
"Kita adalah salah satu produsen pupuk N, tapi faktanya harga pupuk N di Indonesia sama dengan di luar negeri. Harusnya yang mahal itu hanya pupuk P dan K, tapi N malah ikut-ikutan naik tajam, padahal pabriknya ada di dalam negeri," sambungnya.
Kabar Bagus Buat Petani, Pemerintah akan Subsidi Pupuk Organik
Diskusi pembaca untuk berita ini