Jakarta, elaeis.co – Telepon seluler kini bisa punya peran lebih besar bagi petani kelapa sawit. Bukan cuma untuk komunikasi, HP dapat digunakan untuk mencatat panen, menghitung kebutuhan pupuk, memantau pekerjaan kebun hingga berkonsultasi dengan ahli.
Pemanfaatan teknologi digital dinilai bisa membantu petani meningkatkan produksi sekaligus menekan biaya kebun. Kuncinya, teknologi harus dibuat sederhana dan benar-benar menjawab kebutuhan di lapangan.
Hal itu disampaikan CEO SawitPRO Abhishek Singh dalam sesi sharing International Oil Palm Smallholder (IOPS) Forum 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.
Dalam forum tersebut, Abhishek memaparkan konsep Digital and Data-Driven Solutions for Palm Oil Smallholders. Menurutnya, digitalisasi bukan sekadar membuat aplikasi, tetapi menggabungkan data, teknologi dan pengetahuan tentang cara mengelola sawit.
“Digitalisasi harus memberikan manfaat nyata bagi petani. Teknologi bukan hanya tentang aplikasi, tetapi bagaimana data, pengetahuan agronomi dan teknologi dapat membantu petani meningkatkan hasil produksi, menurunkan biaya dan membuat keputusan yang lebih baik,” ujar Abhishek.
SawitPRO melihat produktivitas petani sawit Indonesia masih memiliki ruang untuk ditingkatkan.
Dalam paparannya, produktivitas saat ini berada di sekitar 2,2 ton CPO per hektare. Sementara potensi yang ditampilkan mencapai 2,75 ton CPO per hektare. Artinya, produktivitas masih berpeluang naik sekitar 25%.
Menurut Abhishek, kondisi ini menunjukkan peningkatan produksi tak harus selalu dilakukan dengan membuka lahan baru. Perbaikan cara mengelola kebun juga bisa menjadi jalan.
“Dengan pengelolaan yang lebih baik dan dukungan teknologi, petani dapat meningkatkan produksi tanpa semata-mata bergantung pada perluasan lahan,” katanya.
HP Jadi ‘Asisten’ Petani Sawit, Produksi Bisa Naik dan Biaya Kebun Lebih Hemat
Diskusi pembaca untuk berita ini