Padang, elaeis.co - Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apksindo) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar), Jufri Nur SE MM, menyebut proses peremajaan tanaman kelapa sawit (replanting) di Sumbar relatif berjalan agak lambat.

Jufri menyebut contoh pada 2021, hanya sekitar 11 persen dari total luas kebun yang wajib direplanting, yang sudah dilakukan peremajaan.

"Lumayan baik di 2022, yaitu sudah hampir 20 persen yang sudah bisa dilakukan replanting," ujar Jufri kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Minggu (5/3).

Jufri menyebut, kebanyakan dari kebun kelapa sawit yang belum direplanting itu dari kelompok petani swadaya. "Yang bermitra agak mending," katanya.

Selain jangkauan program peremajaan sawit rakyat (PSR) terbatas, ditambah sejumlah persyaratan yang dinilai memberatkan, Jufri menengarai sebagian petani swadaya tidak punya kemampuan yang cukup untuk melakukan sendiri replanting terhadap perkebunan kelapa sawit miliknya.

Makanya, memanfaatkan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit yang belakangan terus membaik di pasaran, Jufri berharap petani menyisakan sebagian hasil kebunnya. Selain untuk biaya perawatan, bisa juga untuk replanting.

Kendati banyak tanaman sawit yang sudah berusia tua dan sudah saatnya dilakukan peremajaan, menurut Jufri, penurunan produktifitas kebun tidak terlalu tajam. "Paling banter 30 persen" katanya.