Jakarta, elaeis.co - Isu peremajaan atau replanting kebun kelapa sawit kembali mengemuka dalam forum HASI 2026. Di Sesi 1 yang mengangkat tema Updating Teknik Replanting Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia dan Malaysia pada Areal Datar dan Berbukit, para pelaku industri sepakat, tanpa replanting yang tepat dan cepat, produktivitas sawit bakal terus tergerus.
Diskusi ini menghadirkan empat narasumber dari lintas sektor, yakni Esworo selaku Head Plantation Palma Group, Jeffrey Faizal Komarudin sebagai CEO Upstream SD Guthrie Berhad Malaysia, Cahyo Sri Wibowo dari Astra Agro Lestari, serta Setiawan dari PT United Tractors Tbk. Keempatnya memaparkan kondisi terkini sekaligus strategi menghadapi tantangan replanting di lapangan.
Sejak awal, Esworo menekankan replanting bukan lagi sekadar program rutin, melainkan kebutuhan mendesak. Ia mengingatkan, keterlambatan melakukan peremajaan tanaman akan berdampak panjang, mulai dari penurunan produksi hingga membengkaknya biaya operasional.
“Kalau kita terlambat replanting, efeknya bukan cuma ke hasil panen, tapi juga ke biaya dan keberlanjutan kebun itu sendiri,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan replanting tidak bisa disamaratakan. Kondisi lahan menjadi faktor penentu utama. Di area datar, strategi cenderung fokus pada optimalisasi produksi dengan dukungan mekanisasi. Sementara di wilayah berbukit, pendekatannya jauh lebih kompleks. Mulai dari desain jalan, pembangunan infrastruktur, hingga konservasi tanah dan air harus dirancang sejak awal.
Penyesuaian ini penting agar kebun yang diremajakan tidak hanya produktif, tapi juga efisien dalam jangka panjang. “Kalau desain awalnya salah, nanti 20–25 tahun ke depan akan jadi masalah,” tambahnya.
Pandangan ini sejalan dengan pengalaman Malaysia yang dipaparkan oleh Jeffrey Faizal Komarudin. Ia menjelaskan bahwa industri sawit di negaranya sudah melewati lebih dari satu abad dan kini memasuki siklus keempat penanaman.
Menariknya, Jeffrey mengibaratkan setiap pohon sawit sebagai sebuah “pabrik” kecil yang harus dijaga performanya. Dalam satu estate seluas 5.000 hektare, misalnya, bisa terdapat ratusan ribu “pabrik” yang beroperasi setiap hari.
“Kalau satu pohon tidak optimal, berarti satu ‘pabrik’ tidak bekerja maksimal. Bayangkan kalau jumlahnya ratusan ribu,” katanya.
Namun, tantangan terbesar muncul saat tanaman memasuki usia tua. Produksi mulai menurun, tinggi pohon menyulitkan proses panen, dan biaya operasional meningkat. Di sisi lain, ketersediaan tenaga kerja juga semakin terbatas, terutama untuk pekerjaan berat di lapangan.
Kondisi ini mendorong perusahaan-perusahaan di Malaysia untuk beralih ke teknologi. Jeffrey mengungkapkan bahwa digitalisasi dan mekanisasi kini menjadi tulang punggung replanting. Salah satu inovasi yang digunakan adalah pemetaan lahan menggunakan drone, yang kemudian diolah dalam sistem Virtual Replanting Blueprint.
Dengan teknologi ini, perusahaan bisa mengetahui kondisi detail setiap area kebun, mulai dari topografi hingga titik genangan air. Informasi tersebut kemudian digunakan untuk menentukan desain kebun, kebutuhan infrastruktur, hingga strategi perawatan ke depan.
Memang, biaya penggunaan teknologi ini tidak murah. Jeffrey menyebutkan bahwa biaya pemetaan digital bisa mencapai tiga kali lipat dibanding metode manual. Namun, ia menilai investasi tersebut sebanding dengan manfaat jangka panjang.
“Kalau dari awal kita sudah tahu kondisi lahan secara detail, kita bisa hindari kesalahan desain. Itu yang justru menghemat biaya di masa depan,” jelasnya.
Sementara itu, dari sisi Indonesia, Cahyo Sri Wibowo mengungkapkan bahwa tantangan replanting tidak kalah besar. Saat ini, banyak kebun sawit yang didominasi tanaman tua dengan usia di atas 15 hingga 20 tahun, bahkan ada yang mencapai lebih dari 35 tahun.
Kondisi ini jelas berdampak pada produktivitas. Semakin tua tanaman, semakin rendah hasil yang diperoleh. Belum lagi ancaman penyakit seperti Ganoderma yang kerap menyerang tanaman di beberapa wilayah.
“Ini jadi PR besar bagi industri. Kita harus segera mengganti tanaman-tanaman tua dengan varietas baru yang lebih produktif,” ujarnya.
Indonesia sendiri memiliki peran penting dalam industri sawit global, dengan kontribusi sekitar 22 persen terhadap produksi dunia. Artinya, keberhasilan program replanting di dalam negeri akan sangat mempengaruhi pasokan global.
Cahyo menekankan replanting tidak cukup hanya mengganti tanaman lama dengan yang baru. Perencanaan harus dilakukan secara matang, termasuk pemilihan varietas yang tepat. Ia menyarankan agar perusahaan tidak hanya mengandalkan satu jenis varietas, melainkan mengombinasikan beberapa varietas untuk mengurangi risiko.
Selain itu, penggunaan teknologi seperti analisis data dan kecerdasan buatan (AI) juga mulai diterapkan untuk menentukan prioritas replanting. Dengan pendekatan ini, perusahaan bisa memilih blok mana yang harus diremajakan terlebih dahulu berdasarkan usia tanaman, produktivitas, dan kebutuhan pasokan ke pabrik.
“Perencanaan minimal harus 2–3 tahun ke depan, bahkan idealnya satu siklus penuh. Karena dampaknya ke produksi dan operasional sangat besar,” katanya.
Dari sisi pendukung industri, Setiawan menyoroti peran alat berat dan infrastruktur dalam mempercepat replanting. Ia memaparkan bahwa luas perkebunan sawit Indonesia saat ini mencapai sekitar 16,8 juta hektare, dengan produksi CPO di kisaran 45–46 juta ton pada 2025.
Ke depan, angka ini diproyeksikan terus meningkat. Bahkan, target produksi pada 2029 disebut bisa mencapai 80 juta ton, seiring dengan program replanting dan intensifikasi lahan.
Untuk mendukung target tersebut, berbagai inovasi alat berat mulai dikembangkan. Mulai dari excavator khusus replanting, alat pemadatan tanah berbasis sensor, hingga sistem monitoring digital yang memungkinkan pengawasan alat secara real-time.
Teknologi ini dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi kerja di lapangan, sekaligus menekan biaya operasional. Selain itu, Setiawan juga menyoroti pentingnya pembangunan infrastruktur jalan di dalam kebun.
“Masalah klasiknya itu buah sudah panen, tapi tidak bisa keluar dari kebun karena jalan rusak. Ini harus dibenahi,” ujarnya.
Dengan jalan yang baik, distribusi hasil panen bisa lebih cepat, sehingga kualitas buah tetap terjaga dan kerugian bisa diminimalkan.
Secara keseluruhan, diskusi dalam forum HASI 2026 ini menunjukkan bahwa arah industri sawit semakin jelas menuju transformasi berbasis teknologi. Replanting tidak lagi hanya soal menanam ulang, tetapi juga tentang bagaimana merancang kebun yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.
Baik Indonesia maupun Malaysia menghadapi tantangan yang serupa, mulai dari tanaman tua, keterbatasan tenaga kerja, hingga tekanan biaya. Namun, dengan adopsi teknologi dan perencanaan yang lebih matang, industri sawit diyakini masih memiliki peluang besar untuk terus berkembang.
Pada akhirnya, keputusan yang diambil hari ini akan menentukan kondisi kebun dalam 20 hingga 30 tahun ke depan. Karena itu, replanting harus dilakukan dengan pendekatan yang tepat sejak awal.
“Ini investasi jangka panjang. Kalau salah langkah sekarang, dampaknya akan kita rasakan puluhan tahun ke depan,” tutup Jeffrey.
Tak Sekadar Tanam Ulang, Replanting Sawit Kini Mulai Masuk Era Teknologi
Diskusi pembaca untuk berita ini