IPOC kata Mona menjadi wadah para pelaku bisnis dan pemangku kepentingan (stakeholders), pemilik, CEO dan eksekutif, dan para pengambil kebijakan --- baik tingkat nasional maupun internasional --- untuk bersama-sama membahas isu-isu strategis seputar industri kelapa sawit dari hulu sampai ke hilir.

Selain itu, IPOC juga menjadi media bagi para pelaku usaha untuk memperluas jaringan usahanya baik melalui program sponsorship maupun jaringan komunikasi virtual yang disediakan panitia.

"Nah, sudah menjadi tradisi dalam setiap gelaran IPOC, kita menghadirkan pembicara-pembicara ahli minyak nabati senior dunia untuk menguak tren harga. Katakanlah Dorab Mistry (Godrej International Ltd), James Fry (LMC International) dan Thomas Mielke (Oilworld)," katanya.

Minyak Sawit Indonesia di mata dunia

Saat ini, minyak sawit sudah menjadi salah satu minyak nabati paling penting lantaran minyak sawit sudah menjadi pemasok lebih dari 30 persen pasokan minyak nabati dunia. Permintaan minyak sawit untuk pangan dunia dan untuk biofuel, saban tahun terus meningkat. 

Sebagai penghasil kelapa sawit terbesar dunia, Indonesia memainkan peranan sangat signifikan. Itulah makanya pasar global selalu mengamati pasar minyak sawit Indonesia. 

Data Oil World tahun lalu menyebut bahwa Indonesia telah mensuplai lebih dari 29,7 juta ton minyak sawit ke pasar global. Ini setara dengan 55% dari total permintaan minyak sawit global yang mencapai 53,5 juta ton.

Perang Rusia dan Ukraina membikin pasokan minyak nabati dan minyak dunia terganggu. Soalnya kedua negara itu merupakan penghasil minyak bunga matahari terbesar dunia. Mensuplai lebih dari 60 persen pasokan minyak bunga matahari di pasar global. 

Terganggunya pasokan minyak bunga matahari di pasar global, menjadikan peluang minyak sawit semakin terbuka lebar. 

Pasokan minyak bumi dari Rusia yang berkurang telah pula membuka peluang besar bagi biodiesel minyak sawit untuk mengisi kekurangan yang terjadi di pasar global.

Sayang, semua peluang ini sempat terganjal oleh kebijakan stop ekspor sementara yang dilakukan pemerintah. 

"Kita bisa lihat kebijakan larangan ekspor sementara telah memberikan dampak efek domino yang begitu luas di industri sawit Indonesia. Untuk itu sangat penting ada pemahaman akan kebijakan-kebijakan baru untuk membantu menentukan strategi bisnis perusahaan ke depan," ujar Mona.