Jakarta, elaeis.co – Katanya minyak sawit merugikan negara miskin? Faktanya, harganya yang kompetitif justru bantu jutaan masyarakat di Asia dan Afrika tetap bisa mengakses pangan bergizi setiap hari.
Narasi bahwa minyak sawit merugikan negara miskin ternyata bertolak belakang dengan fakta di lapangan.
Data terbaru dari Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI) menunjukkan harga minyak sawit lebih murah hingga USD 200 per ton dibandingkan minyak nabati lainnya, sehingga menjadi penyelamat daya beli pangan bagi jutaan masyarakat miskin di Asia dan Afrika.
Menyitir laporan United Nations Development Programme (UNDP) pada 2021, sebaran penduduk miskin dunia tersebar di 107 negara, dengan konsentrasi utama di Sub Sahara Afrika dan Asia Selatan. Kondisi ini erat kaitannya dengan kemampuan daya beli terhadap bahan pangan bergizi. Dengan pendapatan nominal yang terbatas, masyarakat miskin membutuhkan sumber lemak dengan harga kompetitif.
“Harga minyak sawit di pasar global konsisten lebih murah dibandingkan minyak kedelai, minyak rapeseed, maupun minyak biji bunga matahari, dengan disparitas mencapai USD 100 hingga USD 200 per ton,” kata laporan PASPI, Jumat (13/2).
Keunggulan harga ini membuat minyak sawit menjadi pilihan utama bagi negara-negara importir berpendapatan rendah, termasuk India, Pakistan, Bangladesh, dan beberapa negara Afrika.
Ketersediaan pasokan yang stabil sepanjang tahun turut meningkatkan keterjangkauan pangan bagi masyarakat miskin, sehingga volume konsumsi tetap terjaga meski pendapatan nominal tidak meningkat.
Studi ekonomi menunjukkan beberapa karakteristik minyak sawit yang membuatnya “pro-poor”, antara lain, elastisitas harga rendah, sehingga perubahan harga tidak secara drastis mengurangi konsumsi masyarakat miskin.
Kemudian, elastisitas pendapatan tinggi, di mana sedikit kenaikan pendapatan mampu mendorong peningkatan konsumsi minyak sawit dalam persentase lebih besar.
Terakhir ada fungsi substitusi, yakni menjadi peredam kenaikan harga minyak nabati lain di pasar internasional.
Fenomena ini terlihat nyata di wilayah Asia Selatan, di mana masyarakat berpendapatan menengah ke bawah lebih banyak menggunakan minyak sawit sebagai minyak goreng karena efisiensi biaya. Saat harga minyak kedelai atau minyak biji bunga matahari naik, konsumen beralih otomatis ke minyak sawit, menjaga stabilitas harga pangan global.
Food and Agriculture Organization (FAO) menegaskan bahwa minyak nabati adalah sumber gizi penting. Minyak sawit memenuhi kriteria ini sekaligus membantu negara berkembang mengatasi tantangan ekonomi. Penyediaan akses gizi yang terjangkau pun menjadi kunci dalam pengentasan kemiskinan dari perspektif ekonomi pangan.
Fakta ini jelas mematahkan anggapan bahwa industri minyak sawit merugikan negara miskin. Justru, komoditas ini berperan strategis dalam menjaga stabilitas konsumsi, daya beli, dan nutrisi masyarakat dunia setiap tahunnya.
Negara Miskin Dirugikan Minyak Sawit Fakta Mengejutkan Bikin Terbalik
Diskusi pembaca untuk berita ini