Setelah dilakukan grading, lanjutnya, TBS ditimbang untuk mengetahui volume bahan yang akan diolah. Proses ini penting bagi aspek logistik dan pencatatan produksi, terutama untuk keperluan analisis efisiensi dan rendemen minyak yang dihasilkan dari setiap batch TBS.
"Langkah selanjutnya, buah yang telah ditimbang kemudian dimasukkan ke dalam alat perebus atau sterilizer. Proses ini dilakukan pada suhu tinggi (sekitar 140–145°C) selama 60–90 menit. Tujuannya adalah untuk mematikan enzim lipase yang dapat meningkatkan kadar FFA serta untuk melunakkan daging buah dari bijinya agar mudah diolah," terangnya.
Buah yang sudah direbus akan dipisahkan dari tandan menggunakan alat yang disebut thresher. Alat ini berputar dan membanting tandan sawit agar brondolan (buah) terlepas sepenuhnya. Tandan kosong (empty bunch) akan dipisahkan dan bisa dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos.
Selanjutnya brondolan dimasukkan ke dalam digester, alat berbentuk silinder yang dilengkapi pisau pengaduk. Proses pelumatan ini bertujuan menghancurkan mesocarp (bagian berdaging buah sawit) agar minyak dapat dengan mudah diekstraksi pada tahap berikutnya.
"Setelah melalui digester, bubur buah sawit diproses di mesin screw press yang akan mengekstrak minyak dari mesocarp dengan cara pemerasan mekanis. Di sinilah CPO mentah pertama kali keluar, meskipun masih mengandung air, serat, dan kotoran lainnya," ujarnya.
Langkah terakhir adalah clarification, yaitu proses pemurnian CPO dari pengotor dan air. CPO dialirkan ke clarifier tankuntuk dipisahkan dari bahan padat seperti serat dan lumpur.
Proses ini menghasilkan minyak sawit mentah yang lebih jernih dan siap untuk tahap pemurnian lanjutan di industri. Proses yang dijalankan di pilot plant INSTIPER ini bukan hanya menjadi sarana edukasi bagi mahasiswa dan peneliti, tetapi juga menjadi model miniatur industri pengolahan sawit yang efisien dan berkelanjutan.
Melalui pendekatan berbasis teknologi dan praktik langsung, INSTIPER berkontribusi dalam membentuk sumber daya manusia yang kompeten dan siap menghadapi tantangan industri sawit masa depan.
"Selain mengolah TBS menjadi CPO, mahasiswa juga diajarkan untuk mengolah produk turunan kelapa sawit lainnya seperti Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO), biodiesel, sabun, lilin, cookies, dan margarin. Kegiatan PL pengolahan TBS menjadi CPO ditujukan bagi mahasiswa praktik lapangan yang berasal dari Program Studi Teknologi Hasil Pertanian, Teknik Pertanian, Agribisnis, dan Agroteknologi," kata Bimantio.
Kepala Hubungan Masyarakat INSTIPER yang juga dosen Program Studi Agroteknologi, Betti Yuniasih, S.Si., M.Sc menambahkan, kegiatan PL di INSTIPER bersifat berkesinambungan dengan melibatkan program studi.
PL pengolahan CPO juga ditujukan bagi mahasiswa Prodi Agroteknologi agar mahasiswa tidak hanya memahami proses budidaya yang baik, namun memiliki kesadaran untuk menghasilkan TBS dengan kualitas bagus dan memanen TBS dengan kualitas matang.
"Karena kualitas TBS yang dipanen akan mempengaruhi kualitas CPO yang dihasilkan. Mahasiswa Program Studi Agribisnis juga mengikuti kegiatan PL pengolahan CPO untuk mendapatkan pemahaman bisnis proses industri kelapa sawit secara menyeluruh," jelasnya.
PL pengolahan CPO juga ditujukan bagi mahasiswa Program Studi Teknik Pertanian, supaya mahasiswa memahami dalam proses pengolahan CPO memerlukan alat-alat dengan spesifikasi khusus sesuai fungsi masing-masing. Dengan demikian pemahaman mahasiswa tentang industri kelapa sawit menjadi holistik dari proses hulu hingga hilir.
"Dengan semangat inovasi dan keberlanjutan, pengolahan TBS menjadi CPO di pilot plant INSTIPER menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tinggi dapat menjadi penggerak utama dalam pengembangan industri strategis nasional," pungkasnya.
Keren! Mahasiswa INSTIPER Yogyakarta Berhasil Olah TBS Sawit Jadi CPO
Diskusi pembaca untuk berita ini