Jakarta, elaeis.co – Industri kelapa sawit Indonesia dan Malaysia kini disebut tengah berada di titik paling krusial dalam sejarah perkembangannya. Tekanan global, keterbatasan tenaga kerja, hingga tuntutan keberlanjutan membuat sektor ini tak bisa lagi berjalan dengan pola lama.

Ketua Umum Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia (HIPKASI) Himpunan Profesional Kelapa Sawit Indonesia, M Syarif Rafinda, menegaskan industri sawit harus segera bertransformasi jika ingin tetap menjadi pemain utama di pasar global.

“Industri sawit hari ini tidak bisa lagi berjalan dengan cara lama. Harus berubah menjadi lebih efisien, modern, berbasis teknologi, bahkan terintegrasi digital,” ujar Syarif dalam HASI 2026 di Jakarta, Rabu (22/4).

Menurutnya, kondisi global saat ini membuat industri sawit berada dalam tekanan yang kompleks. Mulai dari fluktuasi ekonomi dunia, dampak geopolitik, hingga meningkatnya tuntutan lingkungan dari pasar internasional.

“Ini bukan lagi soal pilihan, tapi keharusan. Kalau tidak berubah, kita akan tertinggal,” tegasnya.

Syarif menyebut sejumlah tantangan utama yang dihadapi industri sawit saat ini, di antaranya produktivitas yang stagnan, keterbatasan tenaga kerja di lapangan, hingga persoalan sosial dan legal yang semakin kompleks.

Selain itu, industri juga dituntut untuk memenuhi standar keberlanjutan global yang semakin ketat. Hal ini membuat pelaku usaha sawit harus mencari cara baru agar tetap kompetitif tanpa mengorbankan aspek lingkungan.

“Produktivitas per hektare harus naik. Baik itu yield maupun CPO per hektare. Itu kunci utama,” katanya.

HIPKASI mendorong percepatan adopsi teknologi dalam industri sawit, mulai dari mekanisasi replanting, penggunaan drone, hingga pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) untuk meningkatkan efisiensi operasional.

Menurut Syarif, digitalisasi bukan lagi sekadar wacana, tetapi sudah menjadi kebutuhan mendesak di lapangan.

“AI, smart plantation, sampai sistem monitoring digital itu sudah harus jadi standar baru. Kita tidak bisa lagi bergantung pada metode konvensional,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya integrasi data dari hulu ke hilir agar pengambilan keputusan di perkebunan sawit bisa lebih cepat dan akurat.

Dalam kesempatan itu, Syarif juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia sebagai dua negara produsen sawit terbesar dunia.

Menurutnya, kerja sama lintas negara diperlukan untuk benchmarking teknologi, peningkatan SDM, hingga penguatan posisi sawit di pasar global.

“Indonesia dan Malaysia harus jalan bersama. Ini bukan kompetisi, tapi kolaborasi untuk masa depan industri sawit dunia,” ujarnya.

Lebih jauh, HIPKASI menegaskan bahwa sawit bukan hanya sektor ekonomi, tetapi juga bagian penting dari ketahanan energi nasional dan global.

Industri ini dinilai memiliki peran strategis dalam menopang ekonomi masyarakat, terutama di daerah-daerah sentra produksi.

“Sawit adalah sumber kehidupan, penggerak ekonomi, sekaligus bagian dari masa depan energi dunia,” kata Syarif.