Uniknya, meskipun menjadi importir terbesar, India juga piawai mengolah minyak sawit menjadi produk turunan bernilai tambah. Tahun 2024, ekspor produk turunan sawit India menembus 4,53 juta ton, tumbuh signifikan 14,51% dalam empat tahun terakhir.

Komoditas utama yang diekspor antara lain biofuel, Palm Acid Oil (PAO), hingga derivatif fatty alcohol untuk bioplastik dan bio fine chemical. Pasar terbesarnya adalah Uni Emirat Arab (UEA) dengan serapan mencapai 1,77 juta ton pada 2024, disusul Malaysia, Amerika Serikat, Bangladesh, dan Korea Selatan.

Melihat peluang yang besar, pemerintah menyiapkan berbagai strategi untuk memperkuat dominasi minyak sawit Indonesia di pasar India. Salah satunya melalui review AIFTA dan penguatan skema PTA agar tarif perdagangan lebih menguntungkan bagi eksportir nasional. Selain itu, koordinasi dan konsultasi dagang terus dilakukan untuk menghadapi potensi hambatan non-tarif yang kerap muncul di pasar India.

Pemerintah juga tengah mendorong adanya Mutual Recognition Agreement (MRA) ISPO, sehingga sertifikasi keberlanjutan sawit Indonesia dapat diakui secara resmi oleh India. Langkah ini penting untuk menjaga citra positif sekaligus memperluas akses produk sawit berkelanjutan. Di sisi lain, efisiensi rantai pasok juga menjadi fokus, agar harga CPO Indonesia tetap kompetitif dibandingkan pesaing utama seperti Malaysia dan Thailand.

Tak kalah penting, promosi ekspor dilakukan secara agresif melalui berbagai ajang internasional, mulai dari Trade Expo Indonesia, misi dagang bilateral, hingga platform digital ekspor seperti InaExport. Dengan kombinasi strategi tersebut, Indonesia optimistis ekspor minyak sawit ke India akan terus mengalir deras dan memberi kontribusi besar pada devisa negara.

Dengan strategi tersebut, ekspor sawit Indonesia ke India diproyeksikan akan terus mengalir deras. Tak hanya menjaga pasar tradisional, tetapi juga menopang pertumbuhan ekonomi lewat devisa yang stabil.