Rohul, elaeis.co - Sarwono, 43, seorang petani sawit di Kabupaten Rokan Hulu (Rohul), Provinsi Riau, mengaku harga tandan buah segar (TBS) sawit di pasaran benar-benar hancur-hancuran.
"Terhitung sejak usai Lebaran lalu sampai sekarang tidak ada lagi baik-baiknya," ujar Sarwono kepada elaeis.co melalui sambungan telepon, Selasa (23/5) kemarin.
"Terakhir hanya dihargai Rp1.700/kg," tambah Sarwono. Dengan tingkat harga sebesar itu, menurut Sarwono, ia praktis tak bisa berbuat banyak dengan tanaman kelapa sawit yang dimilikinya.
"Jangankan untung, untuk menutupi biaya produksi saja susah," ungkap Sarwono, sambil menambahkan, untuk menekan pengeluaran, ia yang banyak turun ke kebun untuk melakukan apa yang bisa diperbuat.
"Kalau main upah semua, habislah awak."
Harga TBS sawit yang anjlok, menurut Sarwono, berbanding terbalik dengan harga pupuk yang naik. "Sudah sejak lama harus menanggung kenaikan harga pupuk yang sampai 100 persen," keluhnya.
Sarwono berharap para pemangku kepentingan untuk lebih perhatian kepada petani sawit. Bukan terobsesi untuk kata, "Bisa bertahan dengan tingkat hidup yang layak saja cukuplah."
Harga Sawit Jatuh, Petani: Jangankan Untung, untuk Biaya Produksi Saja Tak Tertutupi
Diskusi pembaca untuk berita ini