Dewan Minyak Sawit Malaysia melaporkan persediaan sawit pada Juni meningkat 4,8 persen secara bulanan dan menjadi level tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kenaikan stok tersebut dipicu oleh pertumbuhan produksi musiman yang naik sekitar 8,1 persen.

Selain faktor pasokan, tantangan juga datang dari pasar ekspor utama. India sebagai salah satu konsumen minyak sawit terbesar dunia mengalami penurunan impor hingga mencapai level terendah dalam 14 bulan terakhir pada Juni.

Penurunan tersebut dipengaruhi melemahnya permintaan domestik India serta semakin kecilnya perbedaan harga antara CPO dengan minyak nabati pesaing.

Saat ini, pelaku pasar masih menunggu sejumlah data ekonomi global, termasuk laporan perdagangan Juni dan pertumbuhan ekonomi China pada kuartal II. Data tersebut diperkirakan menjadi penentu arah permintaan komoditas sawit di pasar internasional.

Namun, dengan kombinasi pemulihan harga CPO global dan rencana peningkatan penggunaan biodiesel B50, industri sawit Indonesia memiliki peluang memperkuat pasar domestik sekaligus menjaga prospek pertumbuhan sektor perkebunan nasional.

Program B50 pun menjadi salah satu faktor kunci yang dapat mengubah peta permintaan CPO, dari sebelumnya bergantung pada ekspor menjadi semakin kuat melalui konsumsi energi dalam negeri.