Sukabumi, elaeis.co – Pohon kakao yang mulai menua ternyata belum sepenuhnya “pensiun”. Dengan perawatan yang tepat, tanaman ini masih bisa kembali produktif dan menjadi sumber cuan bagi petani, terutama di wilayah perkebunan rakyat seperti Sukabumi yang mencatat produksi sekitar 11 ribu ton pada 2024.

Kakao atau Theobroma cacao dikenal sebagai komoditas tropis bernilai tinggi. Meski usia tanaman mempengaruhi produktivitas, sejumlah teknik budidaya terbukti mampu menjaga bahkan meningkatkan kembali hasil panen pohon kakao tua.

Secara umum, pohon kakao memasuki masa produktif optimal pada usia 5 hingga 15 tahun. Setelah melewati usia 20 tahun, produksi biasanya mulai menurun. Namun, penurunan ini bukan akhir cerita.

Di lapangan, petani masih bisa “menghidupkan ulang” produktivitas kebun dengan pendekatan budidaya yang lebih terarah. Ada delapan langkah utama yang kini banyak direkomendasikan dalam praktik peremajaan kakao rakyat.

Pertama adalah pemangkasan rutin. Teknik ini dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tunas baru sekaligus membuang cabang yang mati atau terserang penyakit. Pemangkasan yang tepat, terutama setelah panen, membantu tanaman kembali aktif membentuk bunga dan buah.

Kedua, pemupukan berimbang. Pohon kakao tua membutuhkan asupan nutrisi yang stabil agar tetap mampu berproduksi. Kombinasi unsur hara makro dan mikro menjadi kunci agar tanaman tidak “melemah” di usia senja.

Ketiga, pengendalian hama dan penyakit. Tanaman tua cenderung lebih rentan, sehingga kebersihan kebun dan penanganan cepat menjadi faktor penting. Jika dibiarkan, serangan hama bisa menurunkan kualitas sekaligus kuantitas hasil panen secara drastis.

Keempat, pengelolaan tanah dan drainase. Tanah yang sehat ibarat fondasi rumah. Ketika air menggenang atau struktur tanah rusak, akar kakao mudah terganggu. Karena itu, perbaikan drainase dan penambahan bahan organik dilakukan secara berkala.

Kelima, penyiangan gulma. Rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman bukan sekadar “pengganggu visual”, tetapi juga pesaing dalam menyerap nutrisi. Jika dibiarkan, gulma bisa membuat kakao kekurangan asupan penting.

Keenam, peremajaan atau rehabilitasi tanaman. Ini menjadi langkah paling “radikal” namun efektif. Teknik sambung pucuk atau okulasi digunakan untuk mengganti bagian tanaman yang sudah tidak produktif dengan varietas unggul. Cara ini membuat kebun seperti mendapat napas baru tanpa harus replanting total.

Ketujuh, pengaturan naungan. Kakao membutuhkan keseimbangan cahaya. Terlalu banyak sinar matahari bisa membuat tanaman stres, sementara naungan yang terlalu rapat justru menghambat fotosintesis. Pengaturan yang pas menjadi kunci stabilitas produksi.

Kedelapan, manajemen air. Meski kakao relatif tahan, kebutuhan air tetap krusial, terutama di musim kemarau. Kekurangan air bisa membuat bunga rontok dan produksi turun signifikan.

Di Sukabumi, komoditas kakao masih menjadi bagian penting dari ekonomi perkebunan rakyat. Meski bukan daerah produsen utama seperti Sulawesi, keberadaan kebun kakao di sejumlah kecamatan seperti Cikembar, Kalapanunggal, Cibadak, Sukaraja, hingga Jampang Tengah menunjukkan potensi yang terus dijaga.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga aktif mendorong peremajaan kakao lewat bimbingan teknis dan peningkatan teknologi budidaya. Fokusnya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan keberlanjutan kebun rakyat di tengah tantangan usia tanaman yang makin menua.

Di balik batang kakao yang mulai menua, tersimpan cerita panjang tentang ketekunan petani. Dan dengan delapan langkah perawatan ini, kebun yang sempat “melemah” bisa kembali hidup.