Jakarta, elaeis.co - Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Andi Nur Alam Syah mengatakan berkat sektor pertanian, Indonesia menjadi salah satu negara yang kuat dan mampu bertahan dari sisi ekonomi dalam menghadapi berbagai krisis dan ancaman resesi dunia. 

Ia mengaku, pertanian sukses menjadi penyumbang devisa negara sekaligus meningkatkan PDB Indonesia. Pertanian tumbuh meyakinkan baik pada sisi produktivitas maupun ekspor. PDB pertanian tumbuh 2,20% pada triwulan ke III tahun 2022.

"Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pertanian Januari-Oktober 2022 sebesar 550,11 triliun rupiah atau naik 7,37% dibandingkan periode yang sama tahun 2021," kata Andi saat acara Perkebunan Indonesia Expo (Bunex) dalam rangka Peringatan Hari Perkebunan ke-65 tahun 2022, di JCC Hall B Senayan Jakarta, Rabu pekan lalu.

Dalam pencapaian tersebut, lanjut Andi, sub sektor perkebunan turut andil menjadi penyumbang terbesar ekspor di sektor pertanian dengan kontribusi sebesar Rp520,76 triliun.

"Peluang ekspor komoditas perkebunan semakin besar dan terus meningkat. Terbukti ekspor komoditas perkebunan yang melonjak paling besar disumbang oleh kelapa sawit, karet, kakao, kelapa dan kopi," ujarnya.

Andi Nur pun mengungkapkan langkah-langkah transformasi yang akan ditempuh untuk mewujudkan Era Baru Perkebunan Indonesia, melalui tujuh program prioritas Direktorat Jenderal Perkebunan, yaitu Logistik Benih Perkebunan (BUN500) yang terdiri dari penguatan nurseri dan perbenihan mandiri, pengembangan komoditas berbasis kawasan, peningkatan produksi, produktivitas dan pengendalian OPT, peningkatan mutu dan pengembangan produk baru perkebunan, serta perkebunan partisipatif (PASTI).

Menurutnya, hal itu merupakan terobosan dalam mendorong terciptanya investasi baru perkebunan dengan berbagai jenis kemudahan di antaranya kemudahan akses varietas unggul, produk perkebunan, informasi pasar ekspor, promosi dan lain-lain.

Tidak hanya itu, lanjutnya, Ekosistem Perkebunan (EKSIS) yang terbangun oleh unsur-unsur yang mempunyai hubungan timbal balik dan saling terkait dalam suatu lingkungan perkebunan juga diterapkan.

"Misalnya ekosistem perkebunan terdiri dari petani, penyedia benih, penyedia pupuk, penyedia alsintan, pedagang, dan pengusaha, dengan didukung pengembangan platform digital dalam mendukung ekosistem perkebunan, dan peremajaan sawit rakyat (PSR) melalui program Kelapa Sawit Tumpang Sari Tanaman Pangan (Kesatria)," pungkasnya.