Pekanbaru, elaeis.co - Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (DPP APKASINDO), Dr Gulat Medali Emas Manurung menyoroti kelangkaan minyak goreng merk Minyakita. 

Minyak goreng yang diproduksi untuk kebutuhan masyarakat kecil itu memang beberapa minggu terakhir sulit ditemukan dipasaran. 

Kendati begitu, menurut Gulat, kelangkaan Minyakita ini tidak ada kaitannya dengan serapan minyak sawit dalam negeri yang semakin besar untuk memproduksi biodiesel (B35) yang mulai diimplementasikan Februari 2023.

"Kelangkaan Minyakita nggak ada hubungannya secara langsung ke B35. Karena harga minyak goreng jenis lain tidak naik kok, tersedia dan harga CPO stabil kok, malah anjlok pada 2 bulan terakhir," kata Gulat kepada elaeis.co, Selasa (31/1). 

"Lagian hanya Minyakita yang langka. Jenis minyak goreng lain aman, bahkan kebanyakan sedang diskon lagi," sambung pria yang akrab disapa Bang GM ini. 

Menurut Gulat, persoalan Minyakita ini terletak pada distribusinya. Selain itu juga karena memang peminat Minyakita yang tinggi karena kualitas dan harganya yang relatif murah. 

"Jadi permasalahan Minyakita ini adalah distribusi, perencanaan dan pengawasan. Karena kualitas Minyakita sangat bagus, mengakibatkan konsumen minyak premium sebagian bergeser ke Minyakita. Sehingga pasokannya berkurang di pasar," ujarnya. 

Gulat mengaku bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemerintah dengan masih menerapkan kebijakan Domestik Market Obligation (DMO) telah membantu ketersediaan minyak goreng.

"Wajib pasok (DMO) 1:6 itu sudah sangat bagus menjaga kebutuhan domestik. Jadi B35 sama sekali tidak mengganggu kebutuhan pangan karena ada kontrol 1:6 dari DMO itu. Dan, produsen minyak sawit pasca-larangan ekspor juga komit untuk kebutuhan domestik ini," pungkasnya.