Jakarta, elaeis.co – Skema agroforestri sawit-sengon diprediksi akan menjadi model dominan dalam pengelolaan kawasan hutan di Indonesia. 

Studi terbaru yang diterbitkan di Springer.com, melalui jurnal Agroforestry System, menunjukkan bahwa kombinasi tanaman sawit-Falcataria moluccana (sengon) memiliki potensi adopsi tertinggi, mencapai 98% dalam waktu 13 tahun.

Agroforestri sawit muncul sebagai solusi transisi menuju praktik perkebunan yang lebih ramah lingkungan, sekaligus tetap memberi nilai ekonomi bagi petani. 

Pemerintah Indonesia mendorong model ini melalui skema perhutanan sosial, yang bertujuan mengonversi kebun sawit monokultur di kawasan hutan menjadi sistem agroforestri Oil Palm Agroforestry (OPAF).

Ekspansi sawit monokultur selama ini memang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional dan daerah. Namun, praktik tersebut juga memicu deforestasi dan mendapat sorotan dari pasar internasional, terutama Uni Eropa, yang tengah mempertimbangkan pembatasan perdagangan terhadap produk sawit yang terkait dengan pengrusakan hutan.

Penelitian ini menggunakan Adoption and Diffusion Outcome Prediction Tool untuk memperkirakan waktu puncak adopsi berbagai kombinasi tanaman dalam sistem OPAF serta mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi keputusan petani. Data dikumpulkan melalui wawancara terstruktur dan diskusi kelompok terfokus terhadap 136 petani kecil (smallholders) di Jambi.

Hasil penelitian memperlihatkan perbedaan signifikan antara kombinasi tanaman, Sawit-Shorea leprosula diprediksi mencapai puncak adopsi 39% dalam 20 tahun, Sawit-Durio zibethinus (durian) diprediksi mencapai 95% dalam 19 tahun dan Sawit-Falcataria moluccana (sengon) menjadi yang tertinggi dengan prediksi 98% dalam 13 tahun.

Kombinasi sawit-sengon dianggap unggul karena sengon cepat tumbuh, mampu meningkatkan produktivitas lahan, dan menyerap karbon lebih baik, sehingga mendukung target keberlanjutan lingkungan. Petani juga tetap mendapatkan penghasilan dari buah sawit sementara sengon dapat dimanfaatkan sebagai kayu bernilai ekonomi.

Skema agroforestri ini diharapkan dapat menjadi model transisi penting bagi kawasan hutan negara, meminimalkan dampak negatif sawit monokultur, dan sekaligus memenuhi permintaan pasar global akan produk sawit berkelanjutan.

Pemerintah, akademisi, dan pelaku industri sawit menilai, adopsi sistem OPAF seperti sawit-sengon akan menjadi kunci pembangunan perkebunan berkelanjutan, mengurangi tekanan deforestasi, serta meningkatkan daya saing minyak sawit Indonesia di pasar internasional.

Dengan prediksi adopsi yang mencapai 98%, sawit-sengon diperkirakan akan menjadi pionir dominasi hutan Indonesia dalam satu dekade ke depan, menghadirkan keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan konservasi lingkungan.