Berita / Bisnis /
Transformasi Digital Astra Agro: Membangun Ketertelusuran dan Keberlanjutan Sawit dari Hulu ke Hilir
Aktivitas pengangkutan hasil panen sawit. Foto: Taufik Alwie
Pangkalan Bun, elaeis.co --Usai sudah kunjungan awak media ke lapangan dan pusat riset di areal kebun sawit milik anak perusahaan PT Astra Agro Lestari di kawasan Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Tuntas pula rangkaian acara Talk to The CEO 2025, yang puncaknya berlangsung di Hotel Mercure, Pangkalan Bun.
Dari semua aktivitas itu, sebuah kesimpulan penting dapat ditarik: PT Astra Agro Lestari Tbk (Astra Agro) terbukti senantiasa berkomitmen menjaga kesinambungan dan efisiensi operasional di seluruh lini sekaligus menjaga ekosistem lingkungan di sekitarnya melalui sistem yang transparan dan memiliki ketertelusuran. Melalui digitalisasi, perusahaan berupaya mengintesifikasikan lahan sekaligus memperkuat praktik perkebunan yang berkelanjutan.
Kesimpulan yang diperoleh ini tak lepas keterbukaan Astra Agro mengajak sejumlah jurnalis menyusuri jejak perubahan itu dalam program tahunan “Talk to The CEO 2025”. Jelaslah, kunjungan lapangan ke area operasional PT Gunung Sejahtera Ibu Pertiwi (GSIP) pada Kamis, 30 Oktober 2025, itu bukanlah sekadar tur kebun, melainkan perjalanan untuk melihat bagaimana sebuah perusahaan besar tengah mempercepat langkah menuju industri sawit modern dan berkelanjutan.
Dalam kesempatan tersebut, para jurnalis menyaksikan langsung transformasi digital dan inovasi riset diterapkan secara terintegrasi di kebun sawit Perseroan. Di antara sederet inovasi yang diperkenalkan, Plantation Information Management System (PIMS) menjadi bintang utama. Sistem ini ibarat “otak digital” yang menghubungkan seluruh lini bisnis Astra Agro secara terintegrasi, akurat, dan real time, mencakup seluruh kegiatan dari perkebunan, transportasi hasil panen, hingga pabrik pengolahan CPO.
“PIMS berperan sebagai tulang punggung digitalisasi di seluruh unit usaha Astra Agro. Sistem ini memungkinkan integrasi dan efisiensi di setiap tahap operasional, serta menjadi dasar bagi analisis data dan pengambilan keputusan strategis berbasis informasi aktual dari lapangan,” jelas ujar Presiden Direktur Astra Agro, Djap Tet Fa kepada para awak media.
Astra Agro juga telah mengembangkan sistem terintegrasi lainnya seperti AMANDA (Astra Agro Mandiri Data Analytics) dan DINDA (Digital Integrated Data Application). Kedua sistem ini memungkinkan analisis produk=vitas harian serta deteksi dini terhadap anomali operasional di kebun.
Untuk memperkuat pemantauan lapangan, Astra Agro menerapkan drone monitoring dan digital field mapping berbasis citra satelit. Teknologi ini digunakan untuk memantau kondisi tanaman, mendeteksi area rawan, serta melakukan penjadwalan pemeliharaan tanaman secara lebih presisi dan efisien.
Perseroan pun mengembangkan aplikasi SISKA 2.0 untuk mempermudah transaksi TBS dari pihak ketiga, meningkatkan transparansi, dan efisiensi. Sistem ini merupakan sistem pelacakan berbasis aplikasi yang memungkinkan penelusuran TBS hingga ke sumbernya.
Djap Tet Fa menegaskan bahwa fokus Astra Agro tidak hanya pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga pada efisiensi, inovasi, dan keberlanjutan jangka panjang. “Kami ingin memastikan setiap hektare lahan yang dikelola memberikan hasil optimal dengan tetap memperhatikan keseimbangan sosial dan lingkungan. Dengan inovasi dan komitmen, kami ingin menunjukkan bahwa keberlanjutan dan profitabilitas dapat berjalan beriringan,” Djap menjelaskan.
Direktur Astra Agro Lestari Bandung Sahari menambahkan, digitalisasi pada sektor perkebunan untuk memperkuat ekosistem agribisnis yang inklusif. Pasalnya, cakupan keberlanjutan kini semakin luas disertai tuntutan semakin beragam, termasuk dalam aspek rantai pasokan.
“Penting bagi Astra Agro untuk terus menunjukkan komitmen dengan memastikan seluruh sumber pasokannya berasal dari sumber yang bertanggung jawab. Hal ini dilakukan melalui langkah-langkah sepertiti penilaian risiko, penelusuran sumber pasokan, pemantauan, serta pemberian dukungan kepada para pemasok,” jelasnya.
Ia menambahkan, Astra Agro bertekad menjaga transparansi dan ketertelusuran seluruh rantai pasokan hingga ke tingkat perkebunan, baik yang dikelola petani swadaya maupun petani asosiasi, sesuai dengan Kebijakan Keberlanjutan. Sampai dengan akhir tahun 2024, Astra Agro tetap konsisten mencapai 100% ketertelusuran TBS yang diperoleh dari semua kategori pemasok. “Kami berharap pendekatan kolaboratif ini mampu menciptakan rantai pasok sawit yang tangguh, transparan, dan bertanggung jawab,” ucapnya.-







Komentar Via Facebook :