Siku Kata 

Singa, Ular Berpuasa

Singa, Ular Berpuasa
Singa di padang rumput. foto: quora

Makhluk-makhluk yang menyelenggarakan puasa, bukan saja manusia. Hewan-hewan berusia panjang seperti singa juga berpuasa. 

Bahkan seekor singa berpuasa selama 24 jam (sehari semalam). Satu hari dalam seminggu singa berpuasa. Total dalam satu tahun singa berpuasa selama 52 hari. 

Kita manusia (muslim selama Ramadhan) berpuasa dalam rentang 28-30 hari dalam satu tahun. Artinya, puasa singa lebih panjang dari rentang waktu (mungkin kualitasnya juga). Harimau pun berpuasa...

Ular, termasuk jenis hewan berusia yang panjang. Awas di hamparan perkebunan sawit nan luas, banyak ular berbisa. Ular berpuasa selama tiga bulan penuh. 

Selama penyelenggaraan puasa total ini, ular sekaligus memperbudakkan dirinya: peristiwa pergantian kulit menjadi lebih segar dan remaja kembali. 

Betapa berat peristiwa “pembudakan” yang dilakukannya demi pergantian kulit dan sel melalui puasa yang panjang. Puasa ular ini selalu diimbuh dengan adagium “from fast to fest”

Maka berhati-hatilah kita dalam kehidupan sehari-hari, berada di mana pun kalau bersua ular. Mana tau dia sudah sampai batas ‘imsak’-nya, maka dia akan mencari mangsa demi sebuah pesta besar dalam prinsip takjil (mensegerakan perbukaan versi ular). 

Takjil itu sendiri secara harfiah berarti menyegerakan berbuka puasa. Walau hari ini dia mengalami peringkusan makna menjadi jenis cemil-cemilan yang dijual di sepanjang jalan demi menuai gaya hidup (life style) senja Ramadhan jelang waktu berbuka.

Ular yang bersalin kulit itu mengalami kelaparan luar biasa setelah 3 bulan berpuasa. Bayangkan pesta besar yang dilakukan sang ular ketika menutup tarikh puasa mengikuti “hukum alam” yang berlaku padanya.

Suatu kisah yang dipetik dari Rumi sang maulana; seorang yang gagah berani macho menuju ke sebuah puncak gunung bersalju. 

Baca juga: Kota, Pasar dan Sawit

Di puncak itu ada seekor ular yang tengah menjalani puasa besar dan diliput oleh salju membeku. 

Dengan bangga sang pendaki mencungkil salju dan mengggotong tubuh ular dan meluncur menuju kota Baghdad. 

Bak memikul sebatang tugu raksasa, dia memikul dalam balutan kanvas tebal. Ide besar? Dia akan melakukan sebuah ekspo ke-macho-an di tengah Baghdad yang kosmopolit itu.

Selebaran disebar ke seluruh penjuru kota. Menghimbau orang ramai untuk hadir dan menonton (tentu tidak gratis). 

Warga kota mulai berdatangan dan membentuk format ring (cincin) demi sebuah tontonan agung. Sang pendaki macho belum merasa cukup ramai penonton. Dia masih menunggu agar lebih ramai dan banyak lagi yang menonton.

Lebih dua hari gelungan ular dalam bungkusan kanvas itu, belum jua dibuka. Sang pendaki masih menunggu penonton lebih banyak lagi. 

Tiba waktunya dianggap ramai; dengan bangga sang pendaki membuka balutan kanvas. Rupanya di tengah cuaca kota yang amat panas itu, salju itu mencair. Ular raksasa itu terurai dari gelungan salju membeku. 

Ungkaian terakhir balutan kanvas itu menyembulkan kepala ular raksasa dengan tubuh menggeliat setelah menjalani puasa selama 3 bulan. Mangsa pertamanya adalah sang pendaki macho

Berikutnya? Seluruh penonton habis ditelan. Inilah fenomena “from fast to fest” (dari berpuasa menuju pesta). 

Apa yang hendak dipetik dari tamsilan Rumi? Bahwa di dalam diri kita sejatinya bersemayam ular raksasa. Dengan berpuasalah demi mengendali ular itu. Bahkan meredupkan keganasannya. 

Tindakan berpuasa, sejatinya menjadi semacam “kenormalan baru” (new normal). Kita harus menyusun ulang (re-install) tentang bangun malam, makan sahur jelang subuh. Menghentikan kebiasaan makan dan minum siang hari. Membiasakan kumpul di masjid dan menjalani ibadah-ibadah sunnah dan perbanyak dzikir dan baca al Quran. 

Jelang saat berbuka, lalu lintas jalanan begitu sibuk bahkan macet. Pas setiba jatuh waktu berbuka, kesibukan itu lenyap secara ekstrim. Jalanan benar-benar kosong. Kanak-kanak berkeliaran menuju masjid dengan bebunyian seperti suara lebah (tawon) berisik; semua ini sebuah permainan pencarian tentang Maha Kudus dalam satu bulan “kenormalan baru”. 

Terjadi persalinan pandang-lihat, dengar dan aroma sepanjang bulan ramadhan yang memikul tugas “kenormalan baru” itu. Dan ini berulang saban tahun. 

Singa, ular dan hewan-hewan berusia panjang itu sendiri mengenal secara akrab corak hidup “kenormalan baru” itu. Dan “kenormalan baru” itu dianggap sebagai sebuah “interupsi kehidupan” dan diperlukan. 

Orang-orang saleh dari pihak tasawuf menyebutnya sebagai peristiwa mendekati “liminal” (seakan-akan mati). Demi mezahirkan kehidupan baru yang lebih segar dan remaja...

Itu dampak fisik. Secara ruhani, kita mengalami pengalaman batin yang berbeda dengan kehidupan normal pada 10 atau 11 bulan lainnya. Manusia seakan diajak “mendekati” ke alam Malaikat. 

Perbanyak menahan dari segala sisi dan dimensi; kurang berkata-kata yang tak penting. Banyak berdzikir dan ibadah. Pokoknya dalam satu bulan ini, kita sedang menuju tangga istananya Malaikat. 

Begitulah singa dan ular merindui kenyataan “akal kemalaikatan” itu juga. Tak semata “akal”, kita tengah merindukan percikan cahaya kemalaikatan (angelic light) sekaligus...


 

Editor: Abdul Aziz