Berita / Lingkungan /

Potensi Cuan di Bursa Karbon Mulai Dilirik Sejumlah Perusahaan Sawit di Sumut

Potensi Cuan di Bursa Karbon Mulai Dilirik Sejumlah Perusahaan Sawit di Sumut

Teks Foto: Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut), Muhamad Pintor Nasution, saat berbicara kepada para wartawan dalam acara "Buka Bersama Wartawan" di Uso Cafe and Rest


Medan, elaeis.co - Sejumlah perusahaan perkebunan kelapa sawit di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) mulai tertarik dan melirik kemungkinan memperoleh cuan atau keuntungan dari bursa karbon yang telah diresmikan Ptesiden Joko Widodo (Jokowi) pada tahun 2023 lalu.

“Kalau tak salah ada dua perusahaan sawit mulai nanya-nanya, apa namanya ya, sifat konsultasi, diskusi dengan kami soal bursa atau perdagangan karbon ini,” kata Kepala PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Perwakilan Sumatera Utara (Sumut), Muhamad Pintor Nasution .

Hal itu dia katakan saat berbicara kepada para wartawan dalam acara "Buka Bersama Wartawan" di Uso Cafe and Resto Jalan Tengku Amir Hamzah Nomor 110, Kota Medan, Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Senin (1/4/2024) malam.

Pintor enggan mengungkapkan identitas perusahaan sawit tersebut, baik pemilik, kantor, atau pun lokasi kebun sawit demi menjaga prinsip kerahasiaan.

“Tapi perusahaan-perusahaan sawit ini hanya punya kebun, mereka tidak punya pabrik kelapa sawit atau PKS,” kata dia.

Ia menilai wajar jika ada perusahaan sawit yang bertanya tentang perdagangan karbon, karena memang harus diakui jika perkebunan kelapa sawit menghasilkan banyak karbon yang sangat baik bagi lingkungan.

“Nah, potensi cuannya itu ya dari karbon yang dihasilkan dari perkebunan sawit,” beber Pintor.

Kata dia, bagi perusahaan perkebunan sawit yang telah mendapatkan Penghargaan PROPER dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memiliki potensi yang tinggi untuk meraih cuan dari perdagangan karbon melalui bursa.

Ia menyebutkan, soal potensi cuan dari perdagangan karbon melalui bursa ini yang harus bisa diketahui masyarakat luas.

Keberadaan bursa karbon dan bagaimana teknis perdagangannya perlu disosialisasikan lebih meluas ke kalangan masyarakat, termasuk ke pihak industri di dalam negeri. 

“Tujuannya, selain mendapatkan keuntungan, tentu agar bursa karbon bisa dipahami dan membuat masyarakat terdorong untuk berbisnis namun tetap menjaga kelestarian lingkungan,” kata dia.

Ia mengungkapkan, sejauh ini di Indonesia baru ada dua perusahaan yang terdaftar di bursa karbon yaitu dua badan usaba milik negara (BUMN), Pertamina dan PLN.

Pintor mendorong berbagai perusahaan, termasuk perkebunan kelapa sawit, untuk memanfaatkan bursa karbon sebaik mungkin seperti yang ada di luar negeri, termasuk di negeri tetangga kita, Malaysia.

“Di luar negeri bursa karbon sudah menghasilkan uang triliunan rupiah. Kan potensi cuan ini yang dilirik Presiden Jokowi, sehingga ia mendorong, mendukung penuh, serta meresmikan keberadaan bursa karbon,” tegas Muhamad Pintor Nasution.

Komentar Via Facebook :