Berita / Nasional /
Petani Khawatir Pasar Sawit Bubar Karena Kampanye Negatif
Tandan buah segar kelapa sawit.(Ist)
Pekanbaru, elaeis.co - Kampanye negatif terhadap minyak sawit dinilai semakin memengaruhi persepsi pasar internasional dan berpotensi merugikan Indonesia sebagai produsen minyak nabati terbesar di dunia. Petani khawatir kampanye negatif berdampak besar terhadap pasar tersebut.
Ketua Sawitku Masa Depanku (Samade) Riau, Rudi Khairul mengatakan saat ini sejumlah negara yang menjadi konsumen produk turunan kelapa sawit telah menerapkan kebijakan pelabelan khusus terhadap produk yang mengandung minyak sawit. Terutama negara- negara di benua eropa.
Bukan hanya sampai disitu, langkah serupa juga akan dilakukan Australia melalui revisi undang-undang yang mewajibkan pencantuman sumber bahan baku minyak sawit pada kemasan produk pangan.
Di India, terutama di kalangan konsumen muda dan generasi milenial, muncul gerakan anti sawit yang ditandai dengan tren pelabelan “Palm Oil Free”.
Gerakan ini kerap mengaitkan sawit dengan isu kesehatan dan kerusakan lingkungan, meskipun klaim tersebut dinilai tidak sepenuhnya berbasis data yang komprehensif.
"Tekanan terhadap industri sawit semakin besar setelah terjadinya bencana ekologis di sejumlah wilayah Indonesia. Sawit kerap dijadikan pihak yang paling disalahkan, meskipun sebelumnya Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah mengeluarkan peringatan mengenai curah hujan ekstrem sebagai faktor utama penyebab bencana," katanya saat berbincang dengan elaeis.co, Kamis (8/1).
Padahal lanjut Rudi, fakta di lapangan menunjukkan bahwa material yang terbawa arus banjir didominasi kayu dan lumpur, sementara tidak ditemukan tumpukan besar batang sawit yang hanyut. Selain itu, wilayah terdampak bencana juga merupakan kawasan dengan berbagai aktivitas lain seperti pembalakan liar, pertambangan, hutan tanaman industri (HTI), serta pemukiman, yang turut memengaruhi daya dukung lingkungan.
“Sawit sering dijadikan tersangka utama, padahal permasalahan lingkungan jauh lebih kompleks dan melibatkan banyak faktor,” imbuhnya.
Menurut Rudi, sebagai komoditas unggulan nasional, sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian rakyat dan negara. Tanaman ini mudah dibudidayakan, dapat ditanam di pekarangan, ladang, maupun lahan kritis, serta memiliki pasar yang luas dan stabil. Bahkan jutaan petani kecil menggantungkan hidupnya pada sektor kelapa sawit.
Kendati begitu, Ia juga sepakat bahwa perbaikan tata kelola sawit harus terus dilakukan. Pengembangan sawit berkelanjutan dinilai menjadi kunci untuk menjawab kritik global. Misalnya tidak menanam sawit di kawasan konservasi, daerah aliran sungai (DAS), maupun lereng dengan kemiringan terjal.
"Penggunaan tanaman penutup tanah seperti kacangan juga dianjurkan untuk menjaga kesuburan dan mencegah erosi," tandasnya.







Komentar Via Facebook :