https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Outlook Perkebunan 2026: Industri Sawit dan Kopi Siap Naik Kelas, Lapangan Kerja Menguat

Outlook Perkebunan 2026: Industri Sawit dan Kopi Siap Naik Kelas, Lapangan Kerja Menguat

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa sektor perkebunan tetap menjadi tulang punggung ekonomi.


Jakarta, elaeis.co – Sektor perkebunan Indonesia diprediksi memasuki fase pertumbuhan baru pada 2026, dengan fokus pada hilirisasi industri, peningkatan produktivitas petani, dan keberlanjutan lingkungan. 

Industri kelapa sawit, kopi, kakao, dan komoditas rempah diyakini menjadi motor penggerak ekonomi nasional sekaligus membuka lapangan kerja bagi jutaan rumah tangga petani.

Direktur Hilirisasi Hasil Perkebunan, Kuntoro Boga Andri, menegaskan bahwa sektor perkebunan tetap menjadi tulang punggung ekonomi. 

“Hingga kini, lebih dari 10,8 juta rumah tangga di Indonesia menggantungkan hidup pada perkebunan, mayoritas petani skala kecil. Nilai ekspor pertanian pada 2022 mencapai Rp640,56 triliun, di mana 97 persen berasal dari sektor perkebunan, terutama kelapa sawit,” ujarnya, Senin (12/1). 

Menurut Kuntoro, hilirisasi menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing global. Kelapa sawit hingga 2023 menghasilkan 193 produk turunan, mulai dari pangan, kosmetik, oleokimia, hingga biofuel. 

Industri hilir sawit tidak hanya meningkatkan nilai ekspor, tetapi juga menopang penghidupan 2,4 juta petani swadaya dan menyerap lebih dari 16 juta tenaga kerja di sepanjang rantai pasoknya.

Pendekatan serupa akan diperluas ke kopi, kakao, rempah, kelapa, dan jambu mete. “Jika komoditas seperti kopi dan kakao diolah menjadi cokelat dan kopi instan di dalam negeri, bukan hanya bahan mentah, nilai tambah akan jauh lebih tinggi. Ini juga membuka peluang wirausaha lokal dan lapangan kerja baru,” kata Kuntoro.

Kuntoro juga menyoroti pentingnya peningkatan produktivitas petani. 

“Banyak lahan masih dikelola skala kecil, produktivitas rendah karena tanaman tua, minim varietas unggul, dan praktik budidaya tradisional. Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) telah sukses, dan model ini perlu direplikasi untuk kakao, kopi, rempah, dan mete,” jelasnya.

Selain itu, akses pembiayaan dan perlindungan ekonomi petani terus diperluas melalui kredit berbunga rendah, asuransi perkebunan, kemitraan usaha, dan penguatan kelembagaan koperasi serta kelompok tani. 

Perbaikan praktik pascapanen, termasuk pengolahan lada dan pala, juga menjadi fokus agar produk petani memenuhi standar ekspor dan tidak kehilangan nilai pasar.

“Keberlanjutan kini bukan pilihan, melainkan syarat utama akses pasar,” ujar Kuntoro. 

Praktik berkelanjutan melalui ISPO dan standar internasional RSPO, serta kepatuhan terhadap regulasi global seperti EU Deforestation Regulation, menjadi fokus sektor perkebunan. Zero burning, rehabilitasi lahan, dan ekonomi sirkular berbasis limbah perkebunan akan menjaga daya saing sekaligus membuka peluang komoditas berkeunggulan ekologis.

Penguatan ekspor juga membutuhkan strategi pemasaran agresif, diversifikasi pasar non-tradisional, dan inovasi produk untuk menjawab tren pangan sehat, plant-based, dan premium. 

“Kebangkitan ekspor lada dan rempah beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa perbaikan hulu-hilir mampu mengembalikan kejayaan komoditas Indonesia,” ujar Kuntoro.

Dengan reposisi industrialisasi, hilirisasi, dan keberlanjutan, perkebunan Indonesia 2026 diperkirakan naik kelas, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan petani, dan memperkuat posisi negara di rantai nilai global.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :