https://www.elaeis.co

Berita / Nasional /

Narasi Sawit Biang Banjir Kembali Digoreng, IPB Minta Publik Tak Salah Sasaran

Narasi Sawit Biang Banjir Kembali Digoreng, IPB Minta Publik Tak Salah Sasaran

Wakil Rektor IPB University, Ernan Rustiadi.


Bogor, elaeis.co – Setiap kali banjir bandang datang, sawit hampir selalu jadi tertuduh utama. Polanya itu-itu saja. Begitu air meluap dan rumah-rumah terendam, tudingan langsung mengarah ke perkebunan kelapa sawit. 

Akhir 2025 lalu, saat banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Sumatra, cerita lama ini kembali diulang. Padahal, menurut akademisi IPB University, cara berpikir seperti itu justru menyesatkan.

Wakil Rektor IPB University, Ernan Rustiadi, menegaskan bahwa banjir bandang tidak bisa serta-merta disalahkan ke sawit. Masalahnya jauh lebih rumit dan tidak bisa dipotong pendek.

“Kalau bicara sawit di IPB, pendapatnya bisa beda-beda. Di dunia kampus, itu wajar. Bahkan sesama profesor pun bisa tidak sepakat,” kata Ernan saat acara refleksi akhir tahun di Kampus IPB Dramaga, Bogor, Rabu (31/12).

Ia menjelaskan, ada akademisi yang melihat sawit sebagai sumber penghidupan banyak orang, penggerak ekonomi daerah, dan penyumbang devisa negara. 

Tapi ada juga yang mengkritisi dampak lingkungannya, terutama jika kebunnya tidak dikelola dengan baik. Namun, menurut Ernan, langsung menuding sawit sebagai penyebab banjir bandang adalah kesimpulan yang terlalu buru-buru.

“Kalau lahannya cocok dan dikelola dengan benar, sawit itu tidak masalah. Dampaknya ke perubahan iklim memang ada, tapi sifatnya global. Bukan berarti banjir hari ini langsung karena sawit,” ujarnya.

Ernan juga meluruskan anggapan keliru soal lokasi sawit. Ia menegaskan, sawit adalah tanaman dataran rendah, bukan tanaman pegunungan.

“Sawit tidak tumbuh di dataran tinggi. Banjir bandang itu biasanya berawal dari hulu, dari daerah atas. Makanya kalau lihat banjir bawa gelondongan kayu besar, itu jelas bukan batang sawit,” jelasnya.

Menurut Ernan, justru kebun sawit di dataran rendah sekarang banyak yang ikut terendam banjir. Artinya, sawit bukan penyebab utama, melainkan ikut jadi korban.

Ia menilai, masalah sebenarnya sering terjadi di wilayah hulu, seperti pembukaan lahan di pegunungan, penebangan liar, dan rusaknya daerah resapan air. Namun hal-hal ini sering luput dari perhatian karena isu sawit lebih mudah diperdebatkan dan cepat viral.

Soal perubahan tutupan lahan, Ernan juga mengingatkan agar publik tidak menelan mentah-mentah narasi yang beredar. Menurutnya, jarang sekali hutan alam langsung diubah menjadi kebun sawit.

“Biasanya sawit masuk ke lahan yang memang sudah tidak berhutan, sudah semak atau lahan rusak. Bukan hutan lebat yang tiba-tiba ditebang lalu ditanami sawit,” katanya.

Meski begitu, ia mengakui bahwa hilangnya tutupan hutan tetap membuat wilayah jadi lebih rentan, apalagi ketika hujan turun sangat deras.

Faktor lain yang tak kalah penting, kata Ernan, adalah perubahan iklim. Cuaca ekstrem kini makin sering terjadi dan dampaknya makin terasa.

“Sekarang hujannya bisa sangat deras dalam waktu singkat. Dulu mungkin kejadian ekstrem itu puluhan tahun sekali, sekarang jadi lebih sering,” ujarnya.

Curah hujan tinggi, ditambah kondisi hulu yang sudah rusak, membuat banjir bandang jadi sulit dihindari. Karena itu, Ernan meminta masyarakat lebih jeli melihat persoalan dan tidak mudah terbawa opini yang menyederhanakan masalah.

Menurutnya, terus-menerus menyalahkan sawit justru mengalihkan perhatian dari pekerjaan rumah yang lebih besar, seperti memperbaiki kondisi hulu, menindak pembalakan liar, dan menyiapkan langkah menghadapi perubahan iklim.

“Kalau sasaran salah, solusi juga pasti salah,” katanya.

Ernan berharap diskusi soal sawit dan banjir bisa lebih tenang dan masuk akal. Sawit boleh dikritik, tapi jangan sampai nalar ikut tenggelam bersama derasnya air banjir.

BACA BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS
Komentar Via Facebook :