Berita / Internasional /

Malaysia Berharap Lebih 'Cerah' Tahun Depan

Malaysia Berharap Lebih

Ilustrasi-petani kelapa sawit di Kabupaten Kampar, Riau. (Dok. Elaeis)


Jakarta, elaeis.co - Direktur Jenderal Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) Datuk Dr Ahmad Parveez Ghulam Kadir menyampaikan bahwa kinerja industri kelapa sawit Malaysia tahun 2022 sangat baik. Ia memperkirakan hal serupa juga akan berlanjut pada tahun 2023.  

Ahmad yakin hal itu bisa tercapai karena didukung beberapa faktor. Seperti permintaan minyak sawit mentah yang akan lebih kuat tahun depan. 

Kuatnya permintaan CPO bukan tanpa dasar. Konflik Rusia-Ukraina yang sedang berlangsung telah mengganggu rantai pasokan minyak bunga matahari secara global. 

Hal itu menyebabkan lonjakan permintaan minyak sawit sebagai pengganti minyak bunga matahari. Naiknya harga minyak kedelai dan minyak mentah Brent di pasar dunia juga menjadi faktor yang dapat mempengaruhi kinerja minyak sawit Malaysia tahun depan.

"Karena itu, kami memperkirakan harga minyak sawit mentah tahun depan sekitar 5.100 Ringgit Malaysia per ton, atau naik 15,7 persen dibanding tahun ini 4.407 Ringgit Malaysia per ton," kata Ahmad dilansir dari New Straits Times, Kamis (29/12).

Ahmad menyebut, kenaikan harga CPO memang terjadi setiap tahun di Malaysia. Buktinya, harga rata-rata CPO untuk Januari-November 2022 senilai 5.167 Ringgit Malaysia per ton, atau meningkat 18,4 persen dibanding periode yang sama tahun 2021 hanya 4.363 Ringgit Malaysia per ton.

"Memang, tidak bisa dipungkiri harga CPO juga mengalami penurunan pada kuartal III tahun ini. Penyebabnya karena produksi tinggi yang mengakibatkan stok minyak sawit meningkat, serta harga minyak kedelai juga anjlok," ujarnya.

Kendati begitu, Ahmad memperkirakan harga CPO akan stabil tahun depan dengan harga rata-rata 3.800 Ringgit Malaysia per ton. 

Antisipasi produksi minyak sawit yang lebih tinggi, hingga kondisi cuaca yang diperkirakan akan membaik pada paruh kedua tahun depan menjadi dasar keyakinan Ahmad harga CPO mentereng tahun depan.

"Kita juga berharap ketersediaan minyak nabati lainnya juga tinggi tahun depan. Sebab, harga minyak kedelai yang diperkirakan rendah akibat tingginya produksi di Brazil dan Amerika Serikat dapat mendukung harga CPO," terangnya.

"Selain itu, penguatan ringgit terhadap Dolar AS juga dapat mempengaruhi harga CPO," tambah Ahmad.

Tidak hanya itu, lanjutnya, Ratifikasi Malaysia atas Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) pada 30 September 2022 juga akan mendorong permintaan produk minyak sawit karena memperluas akses pasar baru ke negara-negara lain seperti Kanada, Meksiko, dan Peru, yang tidak tercakup oleh negara mana pun, atau perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) yang ada.

"Berdasarkan Cost Benefit Analysis tentang potensi dampak CPTPP, setelah ratifikasi dan implementasi CPTPP, tarif untuk produk minyak sawit sekarang diturunkan dari maksimal 6% untuk Kanada, 5% untuk Meksiko, dan 9% untuk Peru. Penurunan tarif ini berdasarkan jadwal penghapusan tarif," ujarnya.

Selain ekspor minyak sawit yang lebih tinggi ke pasar, penghapusan tarif ini dapat meningkatkan daya saing minyak sawit Malaysia di negara-negara anggota CPTPP.

Ekspor minyak sawit dan produk berbasis sawit lainnya untuk Januari-November 2022 meningkat 1,3 persen menjadi 22,43 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu 22,14 juta ton.

Harga minyak sawit yang lebih tinggi selama periode tersebut juga telah mendongkrak total pendapatan ekspor Malaysia sebesar 31,8 persen menjadi 120,43 miliar Ringgit Malaysia dari 91,38 miliar Ringgit Malaysia pada Januari-November 2021. 

"Ekspor minyak sawit sendiri naik  0,8 persen menjadi 14,25 juta ton pada Januari-November 2022 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya 14,14 juta ton," kata Ahmad.

Dengan demikian, pendapatan ekspor minyak sawit melonjak 31 persen menjadi 80,22 miliar Ringgit Malaysia dari 61,26 miliar Ringgit Malaysia pada periode yang sama tahun 2021.

Sementara itu, produksi CPO diperkirakan akan meningkat 2,1 persen menjadi 18,50 juta ton untuk tahun ini dibandingkan tahun 2021 hanya 18,12 juta ton.

Situasi tenaga kerja diperkirakan akan stabil tahun depan karena aplikasi pekerja asing disetujui secara bertahap.

"Kita berharap, pemulihan produksi karena masalah kekurangan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit, terutama untuk kegiatan pemanenan dan bongkar muat tandan buah segar (TBS) bisa teratasi," kata Ahmad.

Produksi CPO diperkirakan akan terus meningkat menjadi 19 juta ton pada tahun 2023 karena perkiraan peningkatan di area produktif, terutama di Semenanjung Malaysia dan Sarawak. 

Produksi CPO Malaysia Januari-November 2022 mencapai 16,83 juta ton, atau meningkat 1 persen dibandingkan tahun lalu 16,67 juta ton. 

Peningkatan produksi ini, kata Ahmad, disebabkan karena naiknya TBS olahan sebesar 2,8% menjadi 86,51 juta ton pada Januari-November 2022 dibandingkan periode yang sama tahun lalu 84,17 juta ton.

"Untuk mengantisipasi produksi yang lebih tinggi, kita juga memperkirakan stok minyak sawit di Desember naik 0,24 juta ton atau 14,9 persen dibandingkan bulan yang sama tahun lalu," kata dia.

Untuk tahun 2023, stok minyak kelapa sawit diproyeksikan akan mencapai 2 juta ton, lebih tinggi dari pada tahun 2022 karena perkiraan pasokan yang lebih tinggi dari minyak nabati utama lainnya termasuk minyak kelapa sawit.

"Secara umum, kami memperkirakan kinerja industri kelapa sawit Malaysia akan lebih baik tahun depan dibandingkan tahun 2022," pungkasnya.
 

Komentar Via Facebook :