Berita / Sumatera /

Konsumsi dan Daya Beli Petani Sawit di Bengkulu Menurun, Ini Sebabnya!

Konsumsi dan Daya Beli Petani Sawit di Bengkulu Menurun, Ini Sebabnya!

Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Dhita Aditya Nugraha. Foto: IST


Bengkulu, Elaeis.co - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bengkulu mengungkapkan bahwa produksi Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di daerah Bengkulu mengalami penurunan menjelang perayaan Lebaran Idul Fitri 1445 hijriah. Penurunan ini berpotensi memicu penurunan konsumsi dan daya beli petani.

Menurut Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Dhita Aditya Nugraha, produksi TBS kelapa sawit dapat memberikan dorongan bagi petani untuk berbelanja lebih banyak selama liburan Lebaran. Namun, ketika produksi TBS kelapa sawit rendah, petani cenderung untuk mempertimbangkan pengeluaran atau pembelian berbagai barang.
"Saat ini, harga TBS kelapa sawit telah mencapai Rp 2.447 per kilogram di Bengkulu. Namun demikian, harga yang tinggi tersebut tidak menjamin peningkatan konsumsi dan daya beli masyarakat karena produksi TBS kelapa sawit masih memiliki peran yang signifikan," ujar Aditya, Selasa 2 April 2024.

Baca Juga: Rantai Pemasaran TBS Kelapa Sawit di Bengkulu Buat Petani Rugi, Kok Bisa!

Ia menambahkan, walaupun harga TBS kelapa sawit bagus, jika produksi mengalami penurunan, maka konsumsi dan daya beli petani akan turun. Oleh sebab itu, stabilitas produksi TBS kelapa sawit memiliki peranan penting dalam mempertahankan daya beli petani.
"Selama ini banyak yang berpikir petani bisa sejahtera kalau harga sawit naik, padahal selain harga, produksi sawit yang sedikit bisa memicu penurunan konsumsi dan daya beli petani sawit," tambah Aditya.

Baca Juga: Harga TBS Sawit di Bengkulu Selatan dan Kaur Terus Anjlok 

Seperti diketahui, produksi TBS kelapa sawit di Bengkulu saat ini telah mengalami penurunan yang cukup signifikan dari 1 ton per hektar menjadi 450 kilogram per hektar dalam beberapa periode terakhir. Hal itu dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti cuaca buruk, penyakit tanaman, dan faktor-faktor eksternal lainnya.
"Produksi TBS kelapa sawit saat ini menurun pasca El Nino tahun lalu," ujar Sekretaris DPW Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia Provinsi Bengkulu, John Simamora.

Menurut John, kondisi ini membuat banyak petani kelapa sawit di Bengkulu merasa khawatir akan dampaknya terhadap penghasilan dan kesejahteraan mereka. 
"Petani sangat bergantung pada hasil kebun kelapa sawit. Ketika produksi turun, kami merasa terbebani secara finansial," ujar John.

Baca Juga: Bukannya Naik, Harga TBS Kelapa Sawit di Bengkulu Malah Ditetapkan Segini

Dalam upaya mengatasi tantangan ini, Pengamat Pertanian Bengkulu Prof Zainal Muktamar meminta, pemerintah daerah setempat perlu segera mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk mendukung para petani dan menjaga stabilitas produksi TBS kelapa sawit. Langkah-langkah tersebut bisa berupa penyediaan bantuan teknis, pengendalian penyakit tanaman, serta dukungan keuangan bagi petani yang terdampak.
"Selain itu, upaya untuk meningkatkan diversifikasi mata pencaharian bagi petani juga perlu diperkuat. Hal ini dapat dilakukan melalui program-program pelatihan dan pengembangan keterampilan yang memungkinkan petani untuk mengurangi ketergantungan mereka pada produksi kelapa sawit," kata Zainal.

Menurut Zainal, dengan langkah-langkah yang tepat dan kolaborasi antara berbagai pihak terkait, diharapkan bahwa produksi TBS kelapa sawit di Bengkulu dapat segera pulih. Sehingga dapat mendukung konsumsi dan daya beli petani serta meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.
"Semoga dengan kolaborasi antara berbagai pihak terkait, diharapkan bahwa produksi TBS kelapa sawit di Bengkulu dapat segera pulih dan meningkat," pungkasnya.


 

Komentar Via Facebook :