Berita / Nasional /
Kolam Limbah Sawit Mendangkal? Teknologi Ini Diam-Diam Ubah Lumpur Jadi Duit
Jakarta, elaeis.co – Masalah kolam limbah yang mendangkal sudah lama jadi “pekerjaan rumah” di banyak pabrik kelapa sawit (PKS). Sumbernya jelas: Palm Oil Mill Effluent (POME), limbah cair hasil pengolahan tandan buah segar menjadi crude palm oil (CPO).
Setiap hari, POME mengalir ke kolam penampungan, membawa air dan senyawa organik yang perlahan mengendap menjadi lumpur. Endapan inilah yang membuat kolam kian dangkal, kapasitas turun, dan risiko operasional meningkat.
Selama ini, solusi yang umum dipakai masih berkutat pada cara konvensional. Pengerukan lumpur dengan alat berat atau pembangunan kolam baru sering jadi pilihan.
Namun, dua metode itu identik dengan biaya besar, waktu pengerjaan lama, serta keterbatasan akses, terutama di lokasi kolam limbah yang sempit atau jauh dari jalur alat berat. Di sinilah teknologi mulai mengambil alih peran.
Salah satu teknologi yang kini mulai dilirik adalah Geotextile Dewatering Tube atau lebih dikenal sebagai C-Tube, yang dikembangkan PT Petra Nusa Elshada.
Teknologi ini dirancang khusus untuk menangani sedimentasi POME secara lebih efisien, baik dari sisi teknis maupun biaya operasional.
Prinsip kerja C-Tube cukup sederhana, namun efektif. Limbah POME yang mengandung lumpur dipompa menggunakan pompa khusus sludge ke dalam tabung berbahan geotextile.
Material geotextile ini memiliki kekuatan tarik tinggi dan tingkat permeabilitas yang dirancang untuk memisahkan air dari padatan organik.
Ketika POME masuk ke dalam tabung, air akan keluar secara alami melalui pori-pori geotextile, sementara padatan tertahan di dalam tabung.
Proses penyaringan ini berlangsung terus-menerus selama pemompaan dilakukan. Seiring waktu, padatan di dalam C-Tube akan terkonsolidasi dan volumenya menyusut.
Setelah tabung terisi penuh, C-Tube dibiarkan dalam kondisi statis untuk proses pengeringan alami. Hasil akhirnya berupa limbah padat dengan kadar air yang jauh lebih rendah dibandingkan lumpur di dasar kolam.
Keunggulan utama teknologi C-Tube terletak pada fleksibilitas penerapannya. Tabung dapat ditempatkan di pinggir kolam limbah, di atas terpal, atau di area terbuka tanpa perlu pekerjaan sipil yang rumit.
Ukurannya pun bervariasi, menyesuaikan volume lumpur yang akan ditangani. Dalam praktiknya, C-Tube berukuran 5 x 20 meter mampu menampung endapan lumpur hingga setinggi sekitar 1,5 meter dengan bobot mencapai ratusan ton setelah proses dewatering.
Dari sisi operasional, teknologi ini memungkinkan pengurangan volume lumpur secara signifikan langsung di sumbernya.
Kolam limbah yang semula mengalami pendangkalan bisa kembali berfungsi optimal tanpa harus dikeringkan atau dikeruk menggunakan alat berat. Selain itu, air hasil filtrasi dapat dialirkan kembali ke sistem pengolahan limbah sesuai ketentuan yang berlaku.
Nilai tambah lain dari C-Tube adalah karakter limbah padat yang dihasilkan. Endapan yang terkonsolidasi memiliki kandungan organik dan nutrisi yang relatif tinggi.
Dengan pengolahan lanjutan, material ini berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan baku pupuk organik, sehingga tidak hanya menyelesaikan masalah sedimentasi, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan limbah bernilai ekonomi.







Komentar Via Facebook :